HADITS PALSU TENTANG PAHALA KHUSUS PUASA DARI TANGGAL 1 SAMPAI 8 DZULHIJJAH

Pertanyaan:

Telah tersebar selebaran yang di dalamnya memuat sebuah hadits mengenai keutamaan puasa pada hari (Dzulhijjah), bunyinya:

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

1. Hari di mana Allah mengampuni Adam ‘alaihis salaam adalah hari pertama dari bulan Dzulhijjah; barangsiapa berpuasa pada hari itu, niscaya Allah akan mengampuninya dari semua dosa.

2. Hari ke dua adalah hari dimana Allah mengabulkan doa Yunus ‘alaihis salaam dan mengeluarkannya dari perut ikan paus; barangsiapa berpuasa padanya, maka ia seperti orang yang terus beribadah kepada Allah selama setahun penuh tanpa bermaksiat sekejap pun dalam ibadahnya tersebut.

3. Hari ke tiga adalah hari dimana Allah mengabulkan doa Zakaria ‘alaihis salaam; maka barangsiapa yang berpuasa di hari itu niscaya Allah juga akan mengabulkan doanya.

4. Hari ke empat adalah hari dilahirkannya :Isa ‘alaihis salaam; maka barangsiapa berpuasa pada hari itu, niscaya Allah akan menepis musibah dan kemiskinan darinya, dan ia akan dibangkitkan di hari kiamat bersama para malaikat yang mulia.

5. Hari ke lima adalah hari dilahirkannya Musa ‘alaihissalaam; maka barangsiapa berpuasa pada hari itu, niscaya ia akan terbebas dari kemunafikan dan bebas dari siksa kubur.

6. Hari ke enam adalah hari dimana Allah memenangkan nabi-Nya dalam perang Khaibar; maka barangsiapa berpuasa padanya, niscaya Allah akan melihatnya dengan penuh rahmat sehingga ia tidak akan disiksa selamanya.

7. Hari ke tujuh adalah hari ditutupnya pintu-pintu Jahannam dan tidak akan dibuka hingga selesai sepuluh hari tersebut (Dzulhijjah); maka barangsiapa yang berpuasa padanya, niscaya Allah akan menutupkan tiga-puluh pintu kesulitan darinya serta membukakan tiga-puluh pintu kemudahan baginya.

8. Hari ke delapan adalah hari yang disebut hari Tarwiyah, maka barangsiapa yang berpuasa padanya, niscaya ia akan diberi pahala yang tidak diketahui siapapun kecuali hanya Allah ta’ala.

9. Hari ke sembilan adalah hari yang disebut hari ‘Arafah, maka barangsiapa yang berpuasa padanya, niscaya akan menjadi tebusan atas dosanya selama setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang.

10. Hari ke sepuluh adalah hari ‘Idul Adha; maka barangsiapa yang berqurban padanya, niscaya pada setiap tetes darahnya akan Allah ampuni setiap dosanya dan keluarganya, dan barangsiapa yang memberi makan seorang mukmin ataupun bersedekah di hari itu, niscaya Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan aman dan timbangan amalnya menjadi lebih berat dibanding bukit Uhud”.

(Selesai nukilan haditsnya)

Jawab:

Hadits di atas telah dinyatakan oleh para Ulama sebagai Hadits yang tidak ada asalnya / Hadits Palsu.

Diantaranya oleh Lajnah Da-imah (Lembaga Dewan Fatwa Arab Saudi), dan selainnya.

Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, majmu’ah ke-2, juz. 3, hal. 250, no. 20803.

(Fatwa ini diketuai oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh, dan dianggotai oleh Syaikh Sholeh Al-Fawzan dan selainnya).

Namun terdapat hadits yang shohih mengenai keutamaan beramal pada sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah. Beramal apa saja termasuk puasa. Kecuali pada 10 Dzulhijjah maka tidak boleh berpuasa.

Yaitu hadits dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

“Tidak ada hari-hari, amalan sholeh pada hari-hari tersebut adalah lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari (pertama Dzulhijjah) ini”

Maka para sahabat berkata:

يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟

“Ya Rosulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?”

Maka Rosulullah ﷺ bersabda:

ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء

“Tidak pula jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar (berjihad) dengan jiwanya dan hartanya, lalu dia tidak pulang dengan membawa sedikitpun dari itu*”

*Yakni dia gugur mati syahid dalam jihad fi sabilillah tersebut.

H.R. Bukhoriy dan selainnya. Dan ini lafazh dari Sunan At-Tirmidziy.

Di dalam riwayat Bukhoriy , Rosulullah ﷺ bersabda:

ما العمل في أيام أفضل منها في هذه

“Tidak ada amalan pada hari-hari (yang ada ini) yang lebih utama daripada beramal pada hari-hari ini”

Begitupula keutamaan berpuasa ‘Arofah pada tanggal 9 Dzuhijjah, bahwasanya bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, maka haditsnya adalah Shohih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim (Shohih Muslim no. 1162).

Kesimpulan:

1. Hadits khusus tentang keutamaan puasa 1-8 Dzulhijjah, Haditsnya Laa ashla lahu (tidak ada asalnya) / Palsu.

Sebagaimana telah dijelaskan oleh para Ulama Ahli Hadits.

2. Hadits yang shohih tentang keutamaan puasa Dzulhijjah hanyalah Hadits tentang puasa ‘Arofah, tanggal 9 Dzuhijjah.

Yaitu Hadits riwayat Muslim bahwa puasa ‘Arofah bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

3. Namun boleh / sunnah berpuasa 1-8 Dzulhijjah.

Berdasarkan Hadits umum tentang keutamaan banyak beramal pada tanggal 1-10 Dzulhijjah.

Bukan berdasarkan Hadits yang tidak ada asalnya di atas.

Baarokallahu fiikum..
Semoga Allah memberkahi kita semua..

 

Penulis:
Ustadz Abu Misykah Karim hafizahullah
Pengasuh Ma’had (PonPes) Ahlus Sunnah Ahlul Hadits, kab. PALI, SumSel
Alumni Darul Hadits Fuyusy dan Darul Hadits Sumayn, Yaman

Sumber:
http://t.me/bahagia_dengan_islam/2159