Templates by BIGtheme NET

Taat kepada Pemimpin Muslim, Meraup Pahala Tanpa Kenal Musim

Setiap sistem kemasyarakatan dari unit terkecil sampai terbesar tentunya membutuhkan adanya pemimpin yang mengatur anggotanya. Tanpa adanya pemimpin akan terjadi kekacauan dan ketidakteraturan.

Untuk melakukan sebuah perjalanan safar yang terdiri dari minimal 3 orang saja, Nabi membimbing kita untuk menunjuk seorang pemimpin safar. Pemimpin itulah yang akan membuat kebijakan terkait safar yang harus dipatuhi oleh anggota kelompoknya.

إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Jika ada (minimal) 3 orang keluar safar, hendaknya mereka memilih salah seorang dari mereka sebagai pemimpin (H.R Abu Dawud)

Dalam lingkup terkecil, dalam sebuah keluarga, ada pemimpin (kepala keluarga) yang akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah.

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya. Dia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar)

Jika dalam sebuah komunitas terkecil saja terdapat pemimpin yang harus ditaati, terlebih lagi dalam komunitas besar seperti suatu negara. Ketaatan terhadap para pemimpin dan penguasa adalah perintah Allah dan Rasul-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan Ulil Amri (pemimpin dan Ulama) di antara kalian… (Q.S anNisaa’ ayat 59)

Taat kepada pemimpin muslim dalam hal yang ma’ruf adalah perbuatan yang akan mengantarkan seseorang menuju Surga. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berkhutbah pada saat Haji Wada’ (haji perpisahan, di tahun meninggalnya beliau):

اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ

Bertakwalah kalian kepada Allah, sholatlah 5 waktu, puasalah di bulan kalian (Ramadhan), tunaikan zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian akan masuk surga (milik) Tuhan kalian (H.R atTirmidzi, dishahihkan oleh al-Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan al-Albany).

Nabi shollallahu alaihi wasallam sangat menekankan kepada kaum muslimin untuk bersikap mendengar dan taat kepada pemimpin muslim meski pemimpin itu adalah orang yang tidak layak memimpin:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإنْ تَأمَّر عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, bersikap mendengar dan taat meski yang memimpin kalian adalah budak dari Habasyah (Etiopia) (H.R Abu Dawud dan atTirmidzi, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Albany).

Nabi perintahkan kaum muslimin untuk mentaati pemimpinnya, meski pemimpin itu sebenarnya tidak layak menjadi pimpinan. Dalam hadits itu dicontohkan, pemimpinnya adalah seorang budak (hamba sahaya). Padahal, syarat untuk menjadi pemimpin sebenarnya adalah harus merdeka dan bukan budak. Namun, jika suatu saat terjadi hal yang luar biasa, hingga seorang budak menjadi seorang pemimpin, atau tidak melalui mekanisme yang syar’i, maka ketika ia seorang muslim dan telah menjadi pemimpin, wajib untuk ditaati dalam hal-hal yang ma’ruf (tidak bermaksiat kepada Allah).

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam menekankan bahwa ketaatan kepada pemimpin muslim dalam hal yang mubah pada dasarnya adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي

Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin, maka sungguh ia telah taat kepadaku (H.R Ahmad no 8149, asalnya ada dalam riwayat Muslim, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Namun, ketaatan kepada pemimpin muslim itu tidaklah bersifat mutlak. Rakyat diperintah untuk taat kepada mereka hanya jika mereka memerintahkan kepada yang ma’ruf (tidak bermaksiat kepada Allah):

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Tidak boleh taat kepada (siapapun) dalam kemaksiatan (kepada Allah). Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf (H.R al-Bukhari dari Ali bin Abi Tholib)

Ketidaktaatan kepada pemimpin muslim itu hanya jika mereka memerintahkan kepada hal-hal yang dilarang Allah. Hanya dalam hal-hal itu saja. Selebihnya janganlah mencabut ketaatan secara keseluruhan. Sebagai contoh, jika pemerintah memerintahkan seseorang untuk berjudi, maka tidak boleh taat dalam hal itu. Dalam hal-hal lain yang mubah, seperti perintah mengurus identitas diri, surat izin mengemudi, dan semisalnya, hal itu harus ditaati.

مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

Barangsiapa yang memiliki pemimpin, kemudian dia lihat pemimpin tersebut membawa kemaksiatan kepada Allah, maka bencilah kemaksiatannya itu, namun jangan cabut ketaatan (secara menyeluruh) (H.R Muslim)

Penulis : Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah