Templates by BIGtheme NET

Saat Kita Berada Di Bulan Sya’ban

Booklet AL-ILMU Kendari edisi Jumat, 04 Sya’ban 1436 H / 22 Mei 2015

puasaبسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa sampai kami mengatakan beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak berpuasa. Aku sama sekali tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna dalam sebulan kecuali pada bulan Ramadhan dan aku juga tidak pernah melihat beliau paling banyak berpuasa (dalam sebulan) dari berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. al-Bukhari no. 1833 dan Muslim no. 1956)

Para pembaca yang berbahagia.

Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan hijriyah dan merupakan salah satu bulan yang mulia dalam Islam. Kalau mungkin ada yang bertanya mengapa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban”?
Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab “at-Taudhih” juz 13 halaman 445 menukilkan ucapan Ibnu Duraid bahwa bulan ini dinamakan dengan “Sya’ban” (berpencar) karena berpencarnya orang-orang Arab pagan (para penyembah berhala) dahulu, yaitu mereka berpencar dan berpisah pada bulan ini untuk mencari air.

Ada pula yang mengatakan karena pada bulan tersebut orang-orang Arab berpencar dalam penyerangan dan penyerbuan. Ada pula yang mengatakan “Sya’ban” juga berarti nampak atau lahir karena bulan ini nampak atau lahir di antara bulan Ramadhan dan Rajab.

Amalan yang disunnahkan di Bulan Sya’ban

Adapun amalan yang disunnahkan pada bulan Sya’ban adalah banyak melakukan puasa sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas. Dan masih banyak hadits lain yang menerangkan tentang puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Sya’ban.

Namun yang perlu kita ingat dalam hal ini adalah tidak boleh mengkhususkan untuk berpuasa pada hari-hari tertentu di bulan Sya’ban baik di awal bulan, pertengahan bulan (Nishfu Sya’ban) atau akhir bulan, dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah mengkhususkannya.

Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan puasa satu bulan penuh pada bulan Sya’ban?

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah menjawab, “Yaitu agar jangan sampai orang menyangka bahwasanya puasa (pada bulan) tersebut hukumnya adalah wajib (sebagaimana puasa Ramadhan).” (at-Taudhih, juz 13, hlm. 443)

Hikmah Puasa Sya’ban

Para ulama telah berbeda pendapat dalam menguraikan hikmah dari banyaknya puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Sya’ban, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Ada yang mengatakan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukan safar (bepergian) atau keperluan lainnya sehingga terhalang dari melakukan puasa sunnah 3 hari tiap bulannya, maka beliau menggabungkan jumlah puasa sunnah 3 hari tiap bulan yang ditinggalkan dan ditunaikannya pada bulan Sya’ban.

2. Karena dalam rangka mengagungkan bulan Ramadhan.

3. Istri-istri beliau mengqadha (membayar) puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan sebelumnya pada bulan Sya’ban maka beliau pun ikut menemani puasa bersama mereka.

4. Karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia. Padahal dalam bulan tersebut terdapat suatu keutamaan yaitu amalan-amalan yang dilakukan pada bulan tersebut akan diangkat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin agar amalannya diangkat dalam keadaan sedang berpuasa.

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan dalam kitab “Nailul Authar” juz 4, halaman 331 bahwa hikmah yang lebih tepat dalam hal ini adalah karena bulan Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam hadits Usamah ketika bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَان قَالَ ذَلِكَ شَهْرُ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلىَ رَبِّ العَالميَنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Wahai Rasulullah, aku melihat engkau lebih banyak melakukan puasa (sunnah) pada bulan Sya’ban dibandingkan bulan-bulan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘ltulah bulan yang manusia lalai darinya yaitu bulan antara bulan Rajab dengan Ramadhan, dan itu adalah bulan dimana di dalamnya amalan-amalan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR.an-Nasa’i no. 2357, hadits ini hasan bisa dilihat dalam “Shahih wa Dha’if Sunan an-Nasa’i” juz 6, hal. 1)

Al-Imam Sirajuddin Ibnul Mulaqqin asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan bulan Sya’ban dengan banyak berpuasa dikarenakan pada bulan tersebut amalan-amalan hamba diangkat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” (at-Taudhih, juz 13, hlm.442)

Amalan Bulan Sya’ban yang tidak diSunnahkan

Di antara kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh sebagian manusia pada bulan Sya’ban dan dianggap sebagai suatu bentuk ibadah namun tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban (tanggal 15 Sya’ban) dengan mengadakan perkumpulan, meramaikan malam tersebut dan melakukan shalat berjama’ah pada malam tersebut serta berpuasa pada keesokan harinya. Dan para ulama telah mengingkari kesalahan-kesalahan ini di dalam kitab-kitab mereka, diantaranya adalah para ulama dari kalangan madzhab Syafi’iyyah:

lbnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah menukilkan ucapan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah di dalam kitabnya “al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah” juz 1 halaman 184 sebagai berikut:

“… dan seluruh apa yang diriwayatkan dari hadits-hadits yang masyhur (di masyarakat) tentang keutamaan-keutamaan malam ini (malam Jum’at pertama dari bulan Rajab) dan malam Nishfu Sya’ban adalah batil (tidak shahih), mengandung kedustaan dan tidak ada asalnya …”

AI-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan: “Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib yaitu sebanyak 12 rakaat yang dilakukan antara waktu Maghrib dan lsya’ di malam Jum’at pertama padabulan Rajab dan shalat yang dilakukan pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat maka kedua shalat ini adalah tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengandung kemungkaran serta kejelekan …”

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan ucapannya masih pada halaman yang sama: “… dan janganlah engkau tertipu dengan adanya beberapa hadits yang menyebutkan tentang (disunnahkannya) kedua shalat itu, karena sesungguhnya itu semuanya adalah batil (tidak shahih) dan jangan pula tertipu dengan sebagian orang yang tersamarkan atasnya hukum kedua shalat tersebut dari kalangan para ulama yang dia membuat tulisan tentang dibolehkannya kedua shalat tersebut, maka sesungguhnya yang demikian adalah keliru. Dan sungguh asy-Syaikh al-Imam Abu Muhammad ‘Abdurrahman bin lsma’il al-Maqdisi telah menulis suatu kitab yang sangat berharga tentang tidak disyariatkannya 2 shalat tersebut, beliau membahasnya dengan baik dan bagus di dalam kitab tersebut.” (al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, juz 4 hlm. 56)
lbnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i rahimahullah juga menegaskan:

“Termasuk dari amalan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah dan merupakan kejelekan adalah shalat Raghaib pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab dan shalat Nishfu Sya’ban. Dan hadits yang menerangkan tentang kedua amalan tersebut adalah tidak shahih. An-Nawawi rahimahullah dan ulama selain beliau juga telah mengingkari dengan keras kedua amalan tersebut.” (al-Manhaj al-Qowim juz 1 hlm. 288)

Hadits-Hadits Dhaif (Lemah) Seputar Sya’ban

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ؛ نَادَى مُنَادٍ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ ؟ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيَ، إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا، أَوْ مُشْرِكٌ

“Apabila telah tiba malam pertengahan pada bulan Sya’ban (Nishfu Sya’ban) maka ada suara yang menyerukan (Allah): ‘Barangsiapa yang meminta ampun (kepada-Ku) maka akan Aku ampuni dia, Barangsiapa yang meminta (kepada-Ku) maka akan Aku penuhi permintaannyaj maka tidaklah seorang meminta sesuatu (kepada Allah) melainkan akan dipenuhi permintaannya. Kecuali seorang wanita pezina atau orang yang menyekutukan Allah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitab “Syuabul lman” no. 3836 dari jalan Jami’ bin Shabih ar-Ramli dari Markhum bin ‘Abdul ‘Aziz dari Dawud bin Abdurrahman dari Hisyam bin Hassan dari al-Hasan dari sahabat ‘Utsman bin Abil ‘Ash radhiyallahu ‘anhu.

Hadits ini adalah lemah karena pada sanadnya terdapat 2 cacat. Yang pertama adalah ‘an’anah-nya seorang rawi yang bernama al-Hasan (al-Bashri) dan dia dikenal sebagai seorang rawi mudallis. Yang kedua adalah kelemahan seorang rawi yang bernama Jami’ bin Shabih ar-Ramli. (Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, juz 14, hlm. 1099)

خَمْسُ لَيَالٍ لاَ تُرَدُّ فِيْهِنَّ الدَّعْوَة : أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَةُ الجُمْعَةِ وَلَيْلَةُ الفِطْرِ وَلَيْلَةِ النَّحْرِ

“Ada 5 malam yang tidak akan ditolak doa orang yang berdoa di dalamnya: awal malam dari bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam ‘ldul Fithri dan malam ‘Idul Adha.”

Hadits ini diriwayatkan oleh lbnu ‘Asakir dalam kitab “Tarikh Dimasyq” no. 1452 dari jalan Abu Sa’id Bandar bin ‘Umar dengan sanadnya dari Ibrahim bin Abi Yahya dari Abu Qa’nab dari sahabat Abu Umamah.

Hadits ini adalah palsu karena pada sanadnya terdapat 2 orang rawi yang dikenal sebagai pendusta yaitu Abu Sa’id Bandar bin Umar dan Ibrahim bin Abi Yahya.

Al-Imam Sirajuddin lbnu Mulaqqin asy-Syafi’I rahimahullah mengatakan, “Tidak ada hadits yang shahih yang menerangkan tentang masalah (pengkhususan) shalat pada malam Nishfu Sya’ban.” (at-Taudhih, juz 13, hlm.445)

Al-Hafizh Zainuddin Abul Fadhl al-‘Iraqi asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Hadits tentang pengkhususan shalat pada malam Nishfu Sya’ban adalah palsu atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedustaan atas nama beliau.” (Majmu’ Fatawa lbnu Baz, juz 1, hlm. 190)

Jadi kesimpulannya bahwa semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan meramaikan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat atau yang lainnya dan berpuasa pada siang harinya tidak ada satu pun yang shahih yang dapat dijadikan pegangan untuk beramal. Wallahu a’Iam bish shawab.

Penulis: Ustadz Abu ‘Abdirrahman Muhammad Rifqi hafidzahullah.

**********************

Memperbanyak Ibadah Puasa (Shoum) di Bulan Sya’ban

Disunnahkan untuk melakukan shoum (puasa) di bulan Sya’ban. Seseorang yang ingin melakukan ibadah shoum di bulan Sya’ban bisa hanya berpuasa sehari atau beberapa hari. Boleh juga berpuasa mayoritas hari di bulan itu, atau bahkan seluruh hari. Hal itu pernah dilakukan oleh Nabi kita Muhammad shollallahu alaihi wasallam.

“Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melakukan shoum hingga kami berkata: beliau tidak berbuka. Dan beliau berbuka hingga kami mengatakan: beliau tidak shoum. Tidaklah aku melihat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam (selalu) menyempurnakan puasa sebulan seluruhnya kecuali Ramadhan. Tidaklah aku melihat beliau paling banyak melakukan shoum (selain Ramadhan) dibandingkan di bulan Sya’ban”. (H.R alBukhari no 1833 dan Muslim 1956).

“Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Aku tidak pernah melihat Nabi shollallahu alaihi wasallam lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Sya’ban. Beliau (pernah) berpuasa seluruhnya kecuali hanya sedikit. Bahkan beliau (pernah) berpuasa seluruhnya”. (H.R atTirmidzi, anNasaai, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albany)

Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amalan tahunan menuju Allah Azza Wa Jalla.

Dari Usamah bin Zaid beliau berkata: Wahai Rasulullah aku tidak pernah melihat anda banyak berpuasa (sunnah) di suatu bulan kecuali pada bulan Sya’ban. Nabi bersabda: Itu adalah bulan yang manusia banyak lalai. Ia berada di antara Rajab dan Ramadhan. Itu adalah bulan yang amalan-amalan diangkat menuju Tuhan semesta alam. Maka aku suka pada saat amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa (H.R anNasaai dihasankan Syaikh al-Albany).

Namun, bagi seseorang yang tidak memulai puasa Sunnah Sya’ban sebelum tengah bulan (tanggal 15 Sya’ban), makruh baginya untuk memulai berpuasa setelah lewat tanggal 15 Sya’ban, sesuai hadits:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا

“Jika telah masuk pertengahan Sya’ban, janganlah (mulai) berpuasa (sunnah).” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Albany)

Menyelesaikan Tanggungan Puasa Ramadhan Tahun Sebelumnya

Jika seseorang memiliki tanggungan puasa Ramadhan di tahun sebelumnya, maka ia harus segera menunaikannya sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Tanggungan puasa wajib haruslah didahulukan sebelum mengerjakan puasa-puasa Sunnah. Tanggungan puasa itu adalah karena udzur seperti sakit, safar, atau haid pada wanita.

Aisyah radhiyallahu anha juga mengqodho’ (mengganti) tanggungan puasa wajib di Ramadhan sebelumnya pada bulan Sya’ban. Karena kesibukan beliau bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam beliau baru bisa menggantinya di bulan Sya’ban.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ إِنْ كَانَتْ إِحْدَانَا لَتُفْطِرُ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا تَقْدِرُ عَلَى أَنْ تَقْضِيَهُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى يَأْتِيَ شَعْبَانُ

“Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Salah satu dari kami (istri-istri Nabi) berbuka (tidak berpuasa karena udzur) di zaman Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Ia tidak bisa menggantinya bersama Rasulullah shollallahu alaihi wasallam hingga datangnya Sya’ban”. (H.R Muslim no 1934)

Sumber:
1. http://buletin-alilmu.net/2015/05/07/saat-kita-berada-di-bulan-syaban/
2. Buku “Ramadhan Bertabur Berkah”. Penulis: Ustadz Abu Utsman Kharisman -hafidzahullah-.

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ