Templates by BIGtheme NET

Pentingnya Adab Sebelum Ilmu

bigthumbnail

 

Allah telah menganugrahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat yang besar dengan diutusnya Rasul yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, da’i yang menyeru kepada Allah dengan idzin-Nya, dan sebagai lampu yang menerangi, yang telah diturunkan Al-Qur`an kepadanya, sebagai kitab yang memberi petunjuk, mengajarkan ilmu dan yang memperbaiki keadaan manusia. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah:2)

Maka dakwahnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup tiga hal utama, sebagaimana diterangkan dalam ayat yang mulia ini. Tiga hal itu adalah At-Tabliigh (menyampaikan ilmu), At-Tazkiyyah (pensucian jiwa) dan At-Ta’liim (mengajarkan ilmu). Adapun at-tazkiyyah maka yang dimaksud adalah mendidik jiwa agar menerapkan Islam, melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta berakhlak dengan akhlak-akhlak yang utama dan adab-adab yang tinggi.

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaksanakan tugas ini yaitu mendidik dan mensucikan jiwa para shahabatnya dan mengajarkan kepada mereka adab-adab Islam sehingga berubahlah mereka yang tadinya keras, kaku dan kasar menjadi orang-orang yang lembut, luas akhlaknya dan baik dalam pergaulannya serta secara umum berakhlak dengan akhlaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan ummat Islam, yang mana akhlak beliau adalah Al-Qur`an.

Para shahabatpun senantiasa melaksanakan tugas yang agung ini dalam menyebarkan Islam, di mana mereka bersungguh-sungguh dalam menyampaikan adab sebelum ilmu kepada murid-murid mereka dari kalangan tabi’in, dan mengarahkan mereka kepada akhlak dan adab pada dirinya, keluarganya, gurunya, teman-temannya serta seluruh manusia yang ada di sekitarnya, yang semuanya ini selayaknya dimiliki oleh seorang penuntut ilmu agar berpegang teguh dengannya.

Kemudian hal ini pun berpindah kepada tabi’in, di mana mereka menjadi para pengajar yang menjadi panutan dalam masalah adab dan ilmu bagi murid-muridnya. Dan demikianlah dari satu generasi ke generasi berikutnya, mereka senantiasa mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu agama itu sendiri.

  • Ucapan Para Imam tentang Pentingnya Adab

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dari Al-Imam Malik bin Anas, beliau berkata: Berkata Ibnu Sirin: “Mereka (para shahabat dan tabi’in) mempelajari al-huda (petunjuk tentang permasalahan adab dan yang sejenisnya) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.” (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawii wa Aadaabis Saami’, 1/79)

Dari Al-Imam Malik juga, dari Ibnu Syihab, beliau berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah adabnya Allah, yang telah Allah ajarkan kepada Nabi-Nya dan demikian juga telah diajarkan oleh Nabi kepada ummatnya; amanatnya Allah kepada Rasul-Nya agar beliau melaksanakannya dengan semestinya. Maka barangsiapa yang mendengar ilmu maka jadikanlah ilmu tersebut di depannya, yang akan menjadi hujjah antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla.” (Ibid. 1/79)

Dari Ibrahim bin Hubaib, beliau berkata: Berkata ayahku kepadaku: “Wahai anakku, datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka serta ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka, karena sesungguhnya hal itu lebih aku sukai untukmu daripada memperbanyak hadits.” (Ibid. 1/80)

Dari Ibnul Mubarak, beliau berkata: Berkata Makhlad bin Al-Husain kepadaku: “Kami lebih butuh untuk memperbanyak adab daripada memperbanyak hadits.” (Ibid. 1/80)

Hal ini dikarenakan kalau seseorang sibuk memperbanyak hadits dan menghafalnya akan tetapi tidak beradab dengan adab-adab yang telah dipraktekkan oleh para ulama niscaya ilmu tadi tidak akan bermanfaat. Akan tetapi orang yang belajar adab niscaya dia akan terus mencari tambahan ilmu dengan diamalkan dan diterapkan adab-adab yang telah dipelajarinya.

Dari Zakariyya Al-‘Anbariy, beliau berkata: “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu sedangkan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.” (Ibid. 1/80)

Dari Malik bin Anas bahwasanya ibunya berkata kepadanya: “Pergilah ke Rabi’ah lalu pelajarilah adabnya sebelum ilmunya.” (Tanwiirul Hawaalik Syarh Muwaththa` Al-Imaam Maalik, hal.164)

Diambil dari Aadaabu Thaalibil ‘Ilmi hal.23-25 dengan beberapa perubahan.

  • Gambaran Orang yang Ikhlash & Mutaba’ah

Di antara sifat yang harus dimiliki oleh kaum muslimin secara umum terlebih para penuntut ilmu adalah ikhlash dalam setiap ucapan dan amalan. Sebelum menjelaskan secara terperinci tentang sifat ini, akan digambarkan secara global tentang orang yang ikhlash dan mutaba’ah di dalam setiap ucapan dan amalannya.

Orang-orang yang ikhlash dan mutaba’ah adalah orang-orang yang mengumpulkan keduanya dalam setiap ucapan dan amalannya. Amalan dan ucapan mereka seluruhnya untuk Allah dan karena Allah. Ketika memberi sesuatu, mereka lakukan karena Allah, demikian pula ketika tidak memberi, juga karena Allah. Kecintaan mereka karena Allah, kebencian mereka karena Allah. Demikian juga ketika menuntut ilmu, mereka lakukan karena Allah, dalam rangka menghilangkan kebodohan dalam dirinya dan orang lain.

Maka muamalah mereka yang zhahir maupun yang bathin semuanya dalam rangka mengharap Wajah Allah semata. Mereka tidaklah melakukan semuanya itu untuk mencari balasan dari manusia, tidak pula ucapan terima kasih, bukan untuk mencari kedudukan di sisi mereka, tidak pula mencari pujian dan kedudukan di hati-hati manusia, tidak pula untuk lari dari celaan mereka, bahkan mereka menganggap manusia layaknya seperti para penghuni kuburan yang tidak memiliki kemudharatan, manfaat, kematian, kehidupan dan tidak pula tempat kembali.

Orang yang beramal karena manusia dan mencari kedudukan di sisi mereka serta mengharapkan dihindarkan dari madharat dan diberikan manfaat dari mereka, hal ini tidak akan muncul sama sekali dari orang yang mengetahui mereka (yaitu hakikat manusia yang ibaratnya seperti para penghuni kuburan), bahkan ini muncul dari orang yang bodoh akan keadaan mereka dan bodoh akan Rabbnya.

Maka barangsiapa yang mengetahui manusia dengan sebenarnya niscaya dia akan menempatkan mereka pada tempatnya dan barangsiapa mengenal Allah, dia akan mengikhlashkan/memurnikan amalannya, ucapannya, pemberiannya, tidak memberinya, cinta dan bencinya karena Allah semata. Dan tidaklah seseorang bermuamalah kepada makhluk di atas Allah kecuali karena kebodohannya kepada Allah sebagai Khaliqnya, kalau tidak demikian maka apabila dia mengenal Allah dan mengenal manusia niscaya dia akan mengutamakan dan mendahulukan bermuamalah kepada Allah di atas bermuamalah kepada mereka.

Demikian juga seluruh amalan dan ibadah mereka, semuanya dilakukan berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya dan sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhai-Nya, dan inilah yang dinamakan mutaba’ah. Inilah amalan yang akan diterima Allah yaitu yang ikhlash dan mutaba’ah. Dan Dialah Allah yang menguji hamba-hamba-Nya dengan adanya kematian dan kehidupan untuk permasalahan ini (ikhlash dan mutaba’ah). Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk:2)

Allah menjadikan segala yang ada di muka bumi sebagai perhiasan supaya Dia menguji mereka siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.

Berkata Al-Fudhail bin ‘Iyyadh (menjelaskan ayat di atas): “Amal yang paling baik adalah amal yang paling ikhlash dan paling benar.”

Orang-orang bertanya: Ya Aba ‘Ali, amal apakah yang paling ikhlash dan paling benar itu? Beliau menjawab: “Sesungguhnya amal apabila ikhlash akan tetapi tidak benar, tidak akan diterima, dan sebaliknya suatu amalan apabila benar akan tetapi tidak ikhlash maka juga tidak akan diterima sampai amalan tersebut ikhlash dan benar. Adapun yang dinamakan ikhlash adalah apabila amalan tersebut untuk Allah semata sedang yang dinamakan benar adalah apabila amalan tersebut berdasarkan sunnah (petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), hal ini telah disebutkan dalam firman-Nya:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi:110)

Dan berdasarkan firman-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlash menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” (An-Nisaa`:125)

Allah tidak akan menerima suatu amalan pun kecuali apabila amalan tersebut dilakukan ikhlash untuk mengharap Wajah-Nya yang mulia dan mengikuti perintah-Nya (yaitu berdasarkan syari’at yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), adapun yang selain itu maka tertolak atas pelakunya, yang lebih berhak untuk ditolak melebihi debu-debu yang beterbangan.

Di dalam Ash-Shahiihain dari ‘A`isyah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ  رَدٌّ.

“Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara (agama) kami ini apa-apa yang bukan darinya maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhariy no.2550 dan Muslim no.1718)

Dan dalam riwayat lain milik Al-Imam Muslim:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya maka amalan tersebut tertolak (yaitu tidak diterima oleh Allah).”

Maka setiap amalan tanpa berdasarkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hal itu tidaklah menambah bagi pelakunya kecuali semakin jauh dari Allah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala hanyalah diibadahi berdasarkan perintah-Nya, bukan dengan pendapat-pendapat ataupun hawa nafsu. Wallaahu A’lam.

Diambil dari Al-Qaulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid hal.175-176 dengan beberapa perubahan.

Sumber: Buletin Al-Wala’ Wal Bara’ Edisi ke-22 Tahun ke-3