Templates by BIGtheme NET

Orang-Orang Jahiliyyah Berpecah Belah di Dalam Agama dan Urusan Dunianya

3976750532 8abab4018a z-300x200

Ketahuilah -para pembaca “Booklet Al-Ilmu” rahimani wa rahimakumullah– bahwasanya perkara jahiliyyah itu dibangun di atas dua asas yang mengantarkan kepada kerugian, yaitu :

1. Tidak adanya keimanan yang ada didalam hati terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2. Menganggap baik perkara yang diamalkan oleh ahlul jahiliyyah.

Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Dan orang-orang yang beriman kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al-Ankabut : 52)

Oleh karena itu, mengetahui perkara-perkara jahiliyyah adalah suatu hal yang sangat penting agar kita terhindar darinya. Sungguh betapa banyak orang yang terjatuh pada perkara-perkara jahiliyyah -bahkan membela dan memujinya- disebabkan karena mereka tidak mengetahuinya, maka pada edisi kali ini kami kembali hadirkan salah satu perkara dari perkara-perkara jahiliyyah tersebut. Semoga bermanfaat !!

Para pembaca rahimakumullah, diantara perkara dan perilaku jahiliyyah yang ditentang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwasanya mereka (ahlul jahiliyyah) berpecah belah didalam agamanya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar-Ruum:32)

Perangai jahiliyyah yang seperti ini terdapat pada ahlul kitab (yahudi dan nasrani) dan ummiyyin (musyrikin) bahkan ada pada ummat ini (ummat islam) sebagaimana dalam hadits iftiroqul ummah (perpecahan ummat) yang diriwayatkan Imam Abu Daud (4596), At-Tirmidzi (2778), Ibnu Majah (3991), Imam Ahmad 2/332 dan dishohihkan oleh Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albany dalam kitab Ash-Shohihah no.203 dari shahabat Abu Hurairah :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً

“Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan”.

Dalam riwayat ‘Auf bin Malik :

… وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

“.. Dan demi yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, ummatku benar-benar akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, yang satu di Surga, dan yang 72 (tujuh puluh dua) golongan di Neraka,’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang masuk Surga itu) wahai Rasulullah?’ Beliau  menjawab, ‘Al-Jama’ah.” (Dishohihkan oleh Al-Albani dalam  Shohih Ibnu Majah 2/364 no. 3226 dan dalam As-Shohihah no.1492)

Juga dalam riwayat ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash :

قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ.

(Para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau  menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.” (Hadits  hasan dengan syawahid-nya, lihat Ash-Shahiihah no. 1348 dan kitab Shahih Tirmidzi no. 2129)

Ini merupakan sifatnya ahlul jahiliyyah dari kaum yahudi, kaum Nasrani, kaum musyrikin bahkan seluruh agama-agama jahiliyyah berpecah belah dalam agama mereka, masing-masing dari mereka menyeru kepada agamanya, kaum yahudi menyeru kepada agama yahudi, kaum nasrani menyeru kepada agama nasrani, masing-masing dari agama tersebut saling mengkafirkan agama yang lainnya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَى شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya”. (QS. Al-Baqarah: 113)

الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ: Mereka adalah kaum musyrikin yang tidak memiliki kitab suci dan agama dari langit (dari Allah subhanahu wa ta’ala), sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lainnya dan saling berselisih.

فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ : yakni Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan siapa diatas al-haq dan siapa yang diatas kebatilan.

Para pembaca rahimakumullah, agama Allah subhanahu wa ta’ala itu satu untuk seluruh makhluk yaitu beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak mempersekutukannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Akan tetapi mereka ahlul jahiliyyah berpecah belah dalam agamanya, dan menjadi setiap kelompok dari agama mereka berselisih dengan agama yang lainnya.

Kaum yahudi berselisih dikalangan mereka sendiri, demikian pula kaum nasrani berselisih dikalangan mereka sendiri, bahkan mereka menjadi berpecah belah dari sejak dahulu sampai sekarang ini, kaum musyrikin juga berpecah belah dalam peribadatannya, diantara mereka ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah bulan, ada yang menyembah patung, ada yang menyembah malaikat, ada yang menyembah para wali dan orang-orang sholeh, dan diantara mereka ada yang menyembah pepohonan dan bebatuan.

Inilah keadaan ahlul jahiliyyah dari ahlul kitab dan ummiyyin (musyrikin), agama tidaklah menjadikan mereka bersatu dikarenakan mereka memiliki hizbiyyah -bergolong-golongan-.

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. Ar-Ruum:32)

Ini merupakan hukuman dan bencana, tatkala seseorang merasa bangga terhadap kebatilan yang ada padanya padahal yang wajib atasnya ia harus takut dari kesesatan, penyimpangan dan kebinasaan, akan tetapi mereka ahlul jahiliyyah berbangga dengan hal tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya): “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.

Maka Allah  melarang kita dari sifat ahlul jahiliyyah:

وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan”. (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surah Al-‘An’am: 159,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, sedikit pun engkau bukan termasuk golongan mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”

Allah subhanahu wa ta’ala menyeru seluruh para rasul untuk menegakkan agama dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah  semata dan melarang dari berpecah belah.

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”. (QS. Asy-Syura: 13)

Seluruh rasul agama mereka satu yaitu hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukannya, mereka tidaklah berselisih dan berpecah belah.

Allah  juga menyeru kepada seluruh ummat manusia agar tidak menjadi seperti ahlul jahiliyyah yang berpecah belah dan berselisih didalam agama mereka, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Ali-‘Imron: 105

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS. Al-An’am: 105)

Para pembaca rahimakumullah, tidaklah ahlul jahiliyyah berselisih dan berpecah belah didalam agama mereka melainkan setelah datang petunjuk atas mereka, hal ini menunjukkan tidaklah mereka melakukannya atas dasar kejahilan (kebodohan), hanya saja mereka melakukannya karena mengikuti hawa nafsu dan meninggalkan petunjuk setelah jelas baginya -menentang- terkhusus kaum yahudi dan nasrani mereka itu diatas ilmu. Allah subhanahu wa ta’ala menamai mereka ahlul kitab karena memiliki kitab suci dan ilmu, namun ternyata mereka menyelisihi perintah Allah  dan lebih mengikuti hawa nafsunya. Oleh karena itu Allah mengancam mereka dengan adzab yang besar.

Allah subhanahu wa ta’ala melarang umat ini -ummat Islam- untuk mengikuti/menempuh metode jahiliyyah seperti ini dan Allah memerintahkan ummat ini untuk berpegang teguh dengan agama yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ditempuh oleh para sahabat dan para khulafaurrasyidin. Inilah agama yang wajib bagi ummat ini untuk kita berpegang teguh dengannya sampai hari kiamat. Dan apabila mereka berselisih tentang sesuatu perkara hendaknya mereka kembalikan kepada Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah.

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. An-Nisaa : 59)

Perselisihan merupakan tabiat manusia, akan tetapi Allah  membimbing kita untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah apabila terjadi perselisihan dan kita tidak mengetahui siapa diantara kita yang benar, maka barangsiapa yang dipersaksikan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah bahwa dialah yang benar maka kita mengikutinya, sebaliknya barangsiapa yang dipersaksikan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah bukan diatas kebenaran maka kita meninggalkannya.

Para pembaca rahimakumullah, selain dari berpecah belah didalam agamanya, ahlul jahiliyyah juga berpecah belah dalam urusan dunianya, dan mereka memandang bahwa hal itulah yang benar, maka Allah subhanahu wa ta’ala melarang kita dari berpecah belah dalam perkara dunia, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron: 103)

Keadaan bangsa arab sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka menyia-nyiakan agama mereka, yang menyebabkan urusan dunia mereka pun tersia-siakan pula, timbullah kekhawatiran, ketakutan, kecemasan yang sentiasa ada pada diri mereka, dan mereka menjadi orang-orang yang saling bermusuh-musuhan, orang-orang yang bersaudara saling berperang dan membunuh dimasa jahiliyyah, sampai ketika itu suku ‘Aus dan Khozraj -yang ada di kota Madinah mereka satu nasab yang bersaudara- senantiasa melakukan peperangan diantara meraka sampai lebih 100 tahun lamanya, hal ini dikenal dengan nama Harbu bu’ats antara suku ‘Aus dan Khozraj.

Dari sini, menunjukkan perpecahan dan perselisihan yang terjadi antara suku ‘Aus dan Khozraj adalah perkara dunia yaitu menuntut balas atas kematian dari masing-masing pihak.

Maka tatkala Allah  mengutus Nabi-Nya Muhammad  dan hijrah ke Madinah, maka Allah mempersatukan mereka, padamlah api peperangan, menjadilah mereka kaum muslimin yang bersaudara bersama Rasulullah  dan inilah yang Allah  sebutkan dalam firman-Nya :

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara ..” (QS. Ali Imron: 103)

Akhirnya para pembaca rahimakumullah, jika kita menginginkan terciptanya persatuan ditengah hati-hati kaum muslimin saat ini maka kembalikanlah kepada Islam -dengan pemahaman yang benar sesuai pemahaman para salaf- sebagaimana Allah  telah menyatukan hati-hati muslimin saat itu dengan Islam.

Wallahu ta’ala a’lam bisshowab wa billahi taufiq.

Penulis: Al-Ustadz Abu Ukasyah Kholid hafidzahulloh

Maraji (Rujukan):
⦁ Kitab Syarah Masailul Jahiliyyah karya Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafidzahulloh (dengan beberapa tambahan dan penyesuaian).

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

Sumber : Booklet AL-ILMU Kendari edisi Jumat, 27 Robi’ul Tsani 1437 H / 05 Februari 2016 M