Templates by BIGtheme NET

Mina Berdarah Ulah Syiah ?

Booklet AL-ILMU Kendari edisi Jumat, 10 Muharram 1437 H / 23 Oktober 2015 M

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ

Pada musim haji tahun 2015 ini, tragedi Mina terulang kembali. Hingga buletin ini ditulis, hampir delapan ratus korban dilaporkan meninggal dunia sedangkan ratusan lainnya luka-luka. Ada juga jamaah haji yang hilang dan belum kembali ke hotelnya. Maka, kami segenap redaksi buletin al-ilmu mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun. Musibah ini adalah duka kita bersama. Kami hanya bisa berdoa, semoga Allah menerima amal ibadah jamaah yang meninggal dunia, memberikan kesabaran kepada segenap keluarga yang ditinggal dan menyegerakan kesembuhan bagi jamaah yang luka-luka. Amin.

  • Peristiwa; bagian dari takdir

Pembaca rahimakumullah, seorang mukmin beriman terhadap enam rukun iman, termasuk beriman kepada takdir Allah. Ia percaya bahwa segala sesuatu di muka bumi ini, musibah maupun nikmat, terjadi atas ketentuan-Nya. Ia juga yakin bahwa di balik setiap peristiwa ada hikmah besar lagi indah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. al-Hadid: 22-23)

Dalam petikan ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa setiap musibah telah dicatat dan ada hikmahnya, agar tidak terlalu berduka dan tidak berbangga.

Di samping itu, musibah tersebut akan menumbuhkan sikap rendah hati dan menghilangkan sikap sombong. Hati itu lemah, cenderung membanggakan apa yang dimilikinya atau keberhasilan yang diraihnya. Maka, melalui musibah Allah subhanahu wa ta’ala menegur hamba-Nya.

Saudaraku yang saya muliakan, kira-kira demikianlah cara mudah dalam menghadapi musibah. Bersikap husnuzhan, baik sangka kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan yakin adanya hikmah di balik musibah.

  • Hikmah Indah di Balik Musibah

Sebuah cerita nyata, semoga semakin menguatkan keyakinan bahwa setiap musibah itu ada hikmahnya. Ada seorang penumpang tertinggal pesawat yang akan dinaikinya. Ketika pesawat lepas landas, ia tengah berada di kamar mandi bandara. Singkat cerita, tiket mahal yang ia beli hangus. Uangnya amblas. Sepintas, penumpang tersebut merasa sangat sedih. Sekilas, ia terpukul hebat. Hati terpuruk. Air mata berlinang. Badan lemas. Bibir membisu.

Namun, kondisi itu berbalik 180 derajat. Linangan air mata kesedihan menjadi kebahagiaan. Bibir yang awalnya berat, akhirnya tersenyum. Hati puruk menjadi bersyukur. Sebab, petugas bandara mengumumkan bahwa pesawat mengalami kecelakaan. Luar biasa. Rupa-rupanya inilah cara Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyelamatkan dirinya dari musibah itu. Dengan satu musibah, ia terselamatkan dari musibah lain. Menakjubkan bukan?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“… boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. al-Baqarah: 216)

Pembaca rahimakumullah, hikmah dari setiap musibah itu kadang diketahui oleh manusia, kadang tidak diketahui, dan ini sering. Tidak jarang Allah subhanahu wa ta’ala menyimpan hikmah tersebut di dunia dan baru ditampakkan ketika di akhirat. Yakinlah bahwa di balik setiap musibah ada hikmah indah dari Dzat yang Maha Pemurah.

  • Tragedi Mina adalah musibah

Demikian pula dengan tragedi Mina yang baru saja terjadi. Insiden desak-desakan 24 September silam, adalah musibah yang telah tertulis dalam catatan taqdir di Lauhul Mahfuzh. Kita yakin bahwa di balik musibah tersebut ada hikmah besar yang Allah kehendaki.

Di antara hikmah itu adalah sebagai berikut;

  1. Wafat ketika sedang mentaati Allah.
  2. Wafat saat berpakaian ihram.
  3. Wafat di tanah suci Makkah.
  4. Wafat ketika tengah beramal saleh.
  • Selektif Mencari Berita

Berbagai spekulasi penyebab insiden Mina diberitakan oleh berbagai media, baik nasional maupun internasional. Tentunya, media tersebut mengemas berita sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Sudah menjadi rahasia umum bahwa media, cetak maupun elektronik, adalah mesin ampuh penggiring opini masyarakat. Sehingga, masyarakat hendaknya bersikap selektif dalam mencari sumber berita.

Sayangnya, sebagian umat Islam, termasuk di Indonesia, begitu mudah terprovokasi oleh berita-berita di berbagai media, tak terkecuali insiden Mina. Pemberitaan yang muncul ditelan mentah-mentah tanpa ada sikap kroscek, klarifikasi dan selektif terhadap sumber pemberitaan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk meneliti kebenaran sebuah berita.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6)

  • Kronologis Peristiwa

Sebenar-benar berita adalah yang diutarakan oleh pelaku peristiwa. Tentunya selama orang tersebut jujur dan bisa dipercaya. Berikut ini pernyataan beberapa saksi mata sekaligus jamaah haji yang berada di lokasi kejadian. Apep Wachyudin, salah seorang jamaah haji Indonesia, menceritakan bahwa saat berada di Mina ia berhadapan dengan orang-orang yang datang dari arah berlawanan. Kedua belah pihak saling maju ke depan. Kemudian terjadilah desak-desakan yang mengakibatkan Apep pingsan tak sadarkan diri.

Jamaah haji lain dari Ambon, Indonesia, yang juga menyaksikan langsung kejadian tersebut, menuturkan bahwa jalur tersebut sangat luas. Namun, jamaah haji Iran berjalan melawan arus. Mereka tidak mau diatur. Pakaian yang mereka kenakan putih-putih, seperti kain kafan, bukan pakaian ihram. Akhirnya, terjadilah desak-desakan itu. Jamaah asal Ambon tersebut akhirnya menyelamatkan diri dengan naik tenda ke samping jalan.

Kesaksian yang hampir sama juga dituturkan oleh jamaah haji lain, seperti Salkamal Tan, Pa Repi jauhari, Abdullah Wakii’, dan Hadii Soetjipto Sardjono. Kebetulan mereka berada di sekitar lokasi kejadian. Sebagian saksi menambahkan bahwa jamaah haji Iran yang melawan arus meneriakkan yel-yel, “Ya Husein, Ya Husein!” Yel-yel semacam ini adalah ciri khas kaum Syiah. Bukannya bertakbir Allahu Akbar atau memanggil Allah, “Ya Allah, Ya Allah”, malah memanggil Husain seraya berteriak-teriak.

Secara ringkas bisa disimpulkan bahwa penyebab utama insiden Mina adalah ketidaktertiban sebagian jamaah haji dengan memutarbalik melawan arus. Dan jamaah yang melawan arus tersebut kebanyakan dari Iran. Hal ini diperkuat oleh pengakuan penanggung jawab haji Iran sendiri. Ia menyatakan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam tragedi dorong-mendorong yang mengakibatkan tewasnya hampir 800 jamaah haji. Petugas haji Iran tersebut mengaku bahwa 300 jamaah haji Iran menyalahi aturan pengaturan gelombang melempar jamarat.

  • Waspada terhadap Berita Dusta

Ironisnya, dengan paparan fakta di atas, negara Iran yang identik dengan akidah Syiah justru menyalahkan Arab Saudi. Mereka memandang negara berbendera Ia ilaha iIlallah -lambang tauhid- tersebut tidak mampu mengurus Masjidilharam. Ujung-ujungnya, mereka meminta agar kepengurusan tanah suci diserahkan ke internasional.

Tidak tanggung-tanggung, Iran mencoba mengelabui dunia, membentuk opini publik yang berbeda, dengan menyebarkan berita dusta penyebab tragedi Mina. Media-media pro Iran turut menyiarkan berita dusta tersebut. Berdusta bagi Iran atau Syiah itu biasa, bahkan bagian dari agama mereka. Mereka mengemasnya dengan istilah taqiyah. Hal tersebut ditambah dengan kebencian kaum Syiah terhadap Arab Saudi.

Menurut mereka tragedi Mina dilatarbelakangi oleh konvoi Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman. Akibatnya, jamaah haji berhenti mendadak dan terjadilah desak-desakan. Ada beberapa media pemberitaan Indonesia yang terpengaruh menyebarkan berita dusta tersebut.

Setelah ditelusuri, ternyata berita tersebut bersumber dan ABNA, yang berkedudukan dan berafiliasi dengan Iran. ABNA sendiri mengambil sumber dari media Lebanon. Media ini pun ternyata mengambil berita dari kantor berita resmi Iran, FARS. Maklum, bahwa ABNA sebagai media propaganda Iran yang notebene beragama Syiah. Demi memperkuat berita tersebut, mereka menyertakan video arak-arakan putra mahkota.

Fakta berbicara, ternyata pangeran Muhammad bin Salman pada tahun ini tidak menunaikan ibadah haji. Kalaupun haji, beliau biasanya menggunakan jalur udara atau helikopter yang mendarat tepat di atas jamarat. Berita tersebut semakin terbukti dusta karena video yang dijadikan sebagai bukti adalah video tiga tahun silam (2012). Berdasarkan fakta ini, akhirnya redaksi sebuah TV nasional mencabut berita tersebut dan memberikan klarifikasi fakta sebenarnya.

Pembaca rahimakumullah, sudah saatnya kita menjadi seorang muslim cerdas, yang tidak mudah terpengaruh propaganda berbagai media. Bukan seorang muslim kagetan atau reaksioner, yang mudah terbawa arus media.

  • Sejarah Kelam Syiah & Ka’bah

Kalau kita menengok sejarah, tragedi Mina tahun ini bukanlah yang pertama. Banyak kejadian bisa dijadikan bukti bahwa Syiah memang benar-benar kejam, termasuk kepada jamaah haji. Berikut kilas peristiwa kejahatan Syiah terhadap jamaah haji.

  1. Tahun 312 H, jamaah haji dibantai oleh Syiah Qaramithah pimpinan Abu Thahir al-Qaramithi.
  2. Tahun 317 H, ia kembali memasuki area ka’bah, membunuh jamaah haji dan umrah, lalu merampas harta mereka. Bahkan, jasad-jasad korban dimasukkan ke dalam sumur zam-zam. Hajar aswad juga dicuri dan baru bisa diambil kembali pada tahun 339 H (22 tahun).
  3. Tahun 1406 H, jamaah haji Iran mencoba meledakkan Masjidilharam dengan membawa 51 kg bahan peledak.
  4. Tahun 1407 H, kaum Syiah Iran melakukan demonstrasi besar-besaran di Makkah. Sebanyak 402 orang meninggal dunia.
  5. Tahun 1409 H, aksi peledakan oleh kaum Syiah di kota Makkah.
  6. Tahun 1410 H, kaum Syiah menyemprotkan gas beracun kepada jamaah haji di terowongan al-Mu’aishim Mina. Ribuan jamaah haji meninggal dunia.
  7. Tahun 1434 H, kaum Syiah melakukan demonstrasi besar-besaran dan kericuhan di tanah suci.

Terbatasnya ruang menyebabkan semua kejahatan Syiah tidak bisa disebutkan. Dari sini, kita harus waspada terhadap kelompok Syiah. Terlebih bibit-bibit Syiah sudah banyak tersebar di Indonesia.

  • Arab Saudi dan Jamaah Haji

Pelayanan haji dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Mulai dari bangunan fisik, petugas keamanan, pelayanan air minum, hingga petugas kesehatan, semakin bertambah baik. Sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada Arab Saudi atas pelayanan tersebut. Pada edisi mendatang, kami akan mengetengahkan pembahasan rinci tentang pelayanan Arab Saudi terhadap jamaah haji, insya Allah.

Kembali ke tragedi Mina, yang jelas siapapun dalangnya dan apapun penyebabnya, Arab Saudi tidak cuci tangan, bertekat baik dan tetap bertanggung jawab. Pemerintah Saudi akan terus melakukan penyelidikan secara objektif dan proporsional. Wallahu a’lam.

Penulis: Ustadz Abu Abdillah Majd hafidzahullah.

********************

DIANTARA AMALAN YANG MENDAPATKAN KEUTAMAAN DIBANGUNKAN RUMAH DALAM JANNAH (SURGA)

  1. MEMBANGUN MASJID KARENA ALLAH

Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّه لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة

“Siapa yang membangun satu masjid untuk Allah maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (Muttafaq ‘alaih)

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا مِنْ مَالٍ حَلَالٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة

“Siapa yang membangun satu masjid untuk Allah dari harta yang halal maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syuabul Iman, al-Thabrani dalam al-Ausath, dan lainnya)

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Siapa membangun masjid karena Allah walau seperti sarang burung atau lebih kecil dari itu maka Allah akan membangunkan untuknya satu rumah di surga.” (HR. Ibnu Majah, al-Bazzar dan Ibnu Hibban. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 6128)

  1. MENJAGA SHALAT-SHALAT SUNAH RAWATIB DUA BELAS RAKAAT

Dari Ummu Habibab Radhiyallahu ‘Anha, berkata: Aku Mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Siapa yang shalat 12 rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)

Shalat 12 raka’at itu adalah empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua raka’at sesudah maghrib, dua rakaat setelah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh sebagaimana yang terdapat dalam hadits ‘Aisyah dalam Sunan al-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Sumber:

  • Buletin Al-Ilmu (Jember) edisi No. 01/I/XIV/1437 H
  • Grup WhatsApp Salafy Purbalingga

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ