Templates by BIGtheme NET

Memburu Kenikmatan Yang Melebihi Kenikmatan Surga

Booklet AL-ILMU Kendari edisi  Jumat, 22 Jamadal Ula 1436 H / 13 Maret 2015 M

alilmuبسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus: 26)

Barangkali para pembaca membayangkan bahwa surga dengan kenikmatan yang ada di dalamnya merupakan puncak dan segala kenikmatan yang dirasakan hamba. Tidak ada lagi yang lebih nikmat daripada tinggal di istana surga, terpenuhi segala hasratnya, makan dan minum dan hidangan terlezat yang belum pernah dirasakan di dunia, serta bersenang-senang bersama bidadari bermata jeli dalam kehidupan yang abadi.

Berbagai kenikmatan yang Anda bayangkan dan angankan tersebut, kenyataan sebenarnya tidaklah seperti itu. Senyatanya, yang dirasakan hamba di surga jauh lebih nikmat dan lebih indah, tidak ada seorangpun yang mampu membayangkannya. Demikianlah yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, surga adalah tempat tinggal yang disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk kaum mukminin, yang kenikmatan dan kesenangan di dalamnya belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah pula terdengar oleh telinga, serta belum pernah terbetik dan terbayang dalam benak manusia.

Sungguh Maha Besar Allah subhanahu wa ta’ala, Maha Pemurah Dia. Betapapun luar biasa kenikmatan dan kesenangan hidup di surga, ternyata ada kenikmatan lain yang lebih besar dan itu semua, sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan dalam ayat ke-26 surat Yunus. “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.”

 

Apakah Tambahan Itu?

Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam telah mengisyaratkan bahwa tambahan kenikmatan yang akan diberikan kepada penduduk surga adalah melihat wajah Allah Yang Maha Agung. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُوْلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : تُرِيْدُونَ شَيْئًا أَزِيْدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا ألَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ ! قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِِلََى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

“Ketika seluruh penduduk surga telah masuk ke dalam surga semuanya, Allah berfirman kepada mereka, Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambahkan untuk kalian?” Mereka berkata, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga? Dan menyelamatkan kami dan api neraka?’’

Kemudian Allah membuka tabir (yang menutupi Wajah-Nya). Tidaklah penduduk surga diberi dengan sesuatu yang lebih mereka senangi daripada melihat Rabb mereka ‘azza wa jalla.”

Setelah bersabda demikian, beliau kemudian membaca ayat ke-26 dan surat Yunus di atas. (HR. Muslim, no. 266).

Atas dasar inilah, para ulama menjadikan ayat 26 dari surat Yunus ini sebagai dalil yang menunjukkan bahwa penduduk surga nanti akan diberi keutamaan bisa melihat wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam ayat-Nya yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ. إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (al-Qiyamah: 22-23)

Melihat Wajah Allah subhanahu wa ta’ala adalah sebuah nikmat yang melebihi segala kenikmatan yang ada di surga. Senangnya melihat Wajah Allah Yang Mulia (yang tak sama dengan wajah makhluk-Nya) melebihi kesenangan menikmati semua yang tersaji di kebun dan mahligai surga.

Bisakah seorang hamba melihat Allah subhanahu wa ta’ala di dunia ini? Jawabannya tidak bisa, selama masih menjalani kehidupan dunia ini, siapapun tidak akan bisa melihat Wajah-Nya. Melihat Wajah Allah subhanahu wa ta’ala akan dirasakan oleh setiap mukmin di akhirat nanti, setelah ia melakukan berbagai amal balk di dunia ini.

 

Siapakah Orang yang Berbuat Baik Dalam Ayat di Atas?

Inilah sesungguhnya permasalahan terpenting yang harus kita ketahui dalam tema pembahasan buletin kita kali ini. Karena kenikmatan surga dan melihat wajah Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan bisa diraih dengan cuma-cuma begitu saja tanpa adanya usaha, apalagi dengan hidup bersantai-santai dan berfoya-foya yang jauh dari rambu-rambu syariat.

Masing-masing kita tentu merasa butuh untuk mengetahui siapakah orang-orang yang berbuat baik yang akan dijanjikan pahala terbaik dan sekaligus tambahannya tersebut. Dengan itu, seorang muslim bisa melangkahkan kakinya ke arah yang benar dalam rangka menggapai apa yang dicitakannya tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita tengok penjelasan ulama ahli tafsir tentang siapakah yang dimaksud dengan orang-orang yang berbuat baik dalam ayat 26 surah Yunus tersebut.

Menurut al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah, orang-orang yang berbuat baik dalam ayat di atas adalah orang-orang yang memperbaiki amalannya di dunia dengan iman dan amal saleh. (Tafsir Ibnu Katsir).

Secara lebih rinci, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah memaparkan bahwa orang-orang yang berbuat baik dalam ayat di atas adalah orang yang memperbaiki ibadah mereka kepada Sang Pencipta dan orang yang memperbaiki hubungan (muamalah) dengan sesama.

Memperbaiki ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah dengan beribadah kepada-Nya dalam keadaan merasa bahwa Allah subhanahu wa ta’ala selalu melihat dan mengawasinya, serta beribadah kepada-Nya dengan membersihkan ibadah-ibadah tersebut dari niatan-niatan yang tidak lurus, lalu ia tunaikan ibadahnya itu semaksimal kemampuannya.

Adapun memperbaiki hubungan dengan sesama adalah dengan berusaha semaksimal kemampuannya untuk berbuat baik kepada mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan, serta berbuat baik dengan memberikan bantuan materi (harta) maupun tenaga kepada sesama.

Berbuat baik kepada sesama juga diwujudkan dengan melakukan amar makruf nahi munkar (mengajak dan memerintahkan kepada kebaikan serta mencegah dan melarang mereka dari kemungkaran), mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang tidak mengerti, memberikan nasehat kepada orang-orang yang berpaling dari kebenaran, dan berbagai bentuk amal kebajikan yang lain kepada sesama manusia. (Lihat Tafsir as-Sa’di).

Penerapan dari ibadah yang baik kepada Allah subhanahu wa ta’ala terutama adalah dengan mengikhlaskan segala amal ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Anda hendak shalat? Maka niatkanlah shalat Anda karena Allah saja, jangan karena berharap pujian orang lain. Anda ingin bersedekah? Jangan sekali-kali terbetik di benak Anda keinginan untuk dikatakan sebagai orang yang dermawan, niatkanlah sedekah Anda karena Allah dan harapan untuk membantu meringankan beban orang lain.

Atau barangkali Anda termasuk yang mendapatkan panggilan Allah untuk berangkat ke tanah suci tahun ini? Sekali pun jangan terbayang di hati Anda sebuah keinginan agar orang-orang memanggil Anda dengan panggilan pak dan bu haji. Demikian seterusnya, seluruh amal ibadah yang Anda lakukan harus dibangun di atas motivasi dan dorongan ikhlas, semata-mata mengharap pahala dan ridha Allah subhanahu wa ta’ala serta mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Ketika bermuamalah dengan sesama, berbuat baiklah dengan membantu kebutuhan mereka, ramah dan mengucapkan salam ketika berjumpa, lapang dada dan mudah memaafkan, menjenguk yang sakit, mendoakan dan menghiburnya, serta menghindari hal-hal yang menyebabkan mereka terganggu.

Sebagaimana Anda tidak ingin ada seorang pun yang mengganggu Anda, maka jangan sekali-kali menimpakan gangguan kepada siapapun. Anda ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain? Maka Anda pun harus memperlakukan orang lain dengan baik. Berakhlaklah yang baik dan terpuji dalam bergaul.

 

Iringi Amal Saleh dengan Menjauhi Amal Buruk

Para pembaca yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, berbuat baik tidak cukup hanya dengan menjalankan amal kebajikan semata, namun hendaknya berbuat baik itu harus diiringi dengan langkah nyata untuk meninggalkan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan perilaku buruk terhadap sesama. Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang yang berbuat baik adalah orang-orang yang menunaikan amalan yang diwajibkan oleh Allah kepada mereka dan sekaligus menahan diri dari tindak kemaksiatan yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Fathul Qadir).

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa orang yang berbuat baik itu meninggalkan segala perbuatan buruk, sebagaimana dalam firman-Nya

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الإثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلا اللَّمَمَ

“(Orang-orang yang berbuat baik yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dan kesalahan-kesalahan kecil” (an-Najm: 32)

Maka dan itu janganlah amal saleh yang telah dikerjakan ternodai oleh tindakan dan perangai yang tercela. Jangan sampai banyaknya pahala ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala menjadi berkurang atau bahkan habis disebabkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala) atau dosa-dosa yang lainnya. Bisa jadi ada seseorang yang rajin bersedekah, namun terhadap tetangganya masih sering melakukan permusuhan, cacian, dan sumpah serapah.

Bisa jadi pula ada orang yang rajin mengaji, berkali-kali menunaikan ibadah umrah dan haji, namun penghasilan yang ia peroleh berasal dari cara yang tidak halal.

Melakukan kebaikan dan meninggalkan kejelekan harus berjalan beriringan. Orang yang berbuat kebajikan tentu akan menggandengkan keduanya dalam meniti kehidupan yang fana ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia pasti banyak melakukan kesalahan dan perbuatan buruk. Semua orang pasti pernah dan bahkan bisa jadi nanti akan terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan maksiat.

Namun orang yang memperbaiki amalannya akan berusaha menghapus dosa dan kesalahannya. Dengan tulus ia akan memohon ampun kepada Sang Maha Pengampun, kemudian ia tinggalkan perbuatan buruknya itu sejauh-jauhnya dan ia ganti dengan amal kebajikan. Sesungguhnya kebaikan yang dilakukan manusia itu akan menghapus kejelekan yang ada padanya kecuali dosa-dosa besar, karena dosa-dosa besar mengharuskan adanya taubat dari pelakunya.

Ya Allah, berikanlah petunjuk dan kemudahan kepada kami dalam menunaikan kewajiban yang Engkau bebankan kepada kami. Sungguh kami mendambakan untuk menjadi bagian dan hamba-hamba-Mu yang berbuat balk, yang telah Engkau janjikan surga dan kesempatan melihat wajah-Mu di akherat kelak Amin Ya Rabbal Alamin. Wallahu a’lam bish shawab. Penulis: Ustadz Abu Abdillah hafidzahullah.

*********** Fatwa Ulama ***********
AMALAN BERGANTUNG PADA PENUTUPNYA
Oleh: Fadhilatus Syaikh Sholeh Fauzan Al-Fauzan hafizhohulloh.

Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan amalan bergantung pada penutupnya, dan apa contoh dari hal itu?

Jawaban: Amalan bergantung pada penutupnya yakni ketika (menghadapi) kematian apa yang dialami oleh setiap insan ketika (menghadapi) kematian. Jika dia mati di atas kebaikan maka dia termasuk dari pelaku kebaikan, Jika dia mati di atas kejelekan maka dia termasuk dari pelaku kejelekan. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ أحدَكُم ليَعملُ بعملِ أَهْلِ الجنة حتَّى ما يَكونُ بينَهُ وبينَها إلَّا ذِراعٌ فيسبقُ عليهِ الكتابُ فيعمل بعملِ أَهْلِ النَّارِ فيدخلُها ، وإن َّأحدَكُم ليعملُ بعملِ أَهْلِ النَّارِ حتَّى ما يَكونَ بينَهُ وبينَها إلَّا ذراعٌ ثمَّ يسبِقُ عليهِ الكتابُ ]فيعمَل بعملِ أَهْلِ الجنَّة[ فيدخُلُها»

“Sesungguhnya salahsatu dari kalian akan beramal dengan amalan penduduk surga hingga tidak ada antara dirinya dengan surga kecuali satu hasta kemudian dia didahului oleh catatan amal sehingga dia akan beramal dengan amalan penduduk neraka maka dia akan memasukinya dan sesungguhnya salahsatu dari kalian akan beramal dengan amalan penduduk neraka hingga tidak ada antara dirinya dengan neraka kecuali satu hasta kemudian dia didahului oleh catatan amal [kemudian dia beramal dengan amalan penduduk surga] maka dia memasukinya. [HR. Muslim nomer (2643)]

  • Subtansi atas penutup (amalan):

Dan oleh karena itu sangatlah pantas bagi setiap muslim, untuk meminta kepada Alloh selalu, husnul khotimah (kesudahan yang baik) dan selalu berada di atas amalan sholeh, dengan tujuan apabila datang kepadanya; kematian, apabila dia di atas amalan sholeh, sangatlah pantas bagi setiap muslim apabila terjadi dari dirinya suatu kesalahan, bergegas bertaubat dan tidak menunda taubatnya.

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ

”Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. [Qs. An-Nisaa: 18]

Maka tidak akan diterima taubatnya, disaat nyawa telah di tenggorokan, telah berakhir waktu (diterimanya) taubat, maka wajib bagi setiap insan untuk bergegas bertaubat, apabila terjatuh padanya kesalahan atau ketergelinciran, Alloh akan menerima taubat orang yang bertaubat, agar penghujungnya menjadi baik dan indah.

Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15392

Sumber:

  • Buletin Al-Imu Ma’had As-Salafy Jember Edisi no. 12/III/XIII/1436 H
  • Grup WhatsApp Ahlussunnah Karawang

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْن