Templates by BIGtheme NET

Membentengi Rumah Dari Setan (3)

Booklet AL-ILMU Kendari edisi Jumat, 20 Dzulqo’dah 1436 H / 04 September 2015 M

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ

Para Pembaca Booklet Al-Imu yang kami muliakan, delapan benteng telah kami sebutkan guna mengupayakan terjaganya rumah dari musuh yang terkutuk. Berikut ini kelanjutan dari dua tulisan sebelumnya :

  • Tidak memelihara anjing atau membiarkan anjing masuk ke dalam rumah

Abu Thalhah radhiyallahu ‘anha menyampaikan sabda Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ تَدْخُلُ الْمَلاَئِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلاَ صُورَةٌ

“Para malaikat tidak akan masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.” (HR. Al-Bukhari no. 3225 dan Muslim no. 5481)

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan: “Jibril berjanji kepada Rasulullah untuk mendatangi beliau di suatu waktu. Maka tibalah waktu tersebut namun ternyata Jibril tak kunjung datang menemui beliau. Ketika itu di tangan beliau ada sebuah tongkat, beliau melemparkan tongkat tersebut dari tangan beliau seraya berkata, “Allah dan para utusannya tidak akan menyelisihi janjinya.” Beliau lalu menoleh dan ternyata di bawah tempat tidur ada seekor anjing kecil. Beliau berkata, “Ya Aisyah, kapan anjing itu masuk ke sini?” “Saya tidak tahu,” jawab Aisyah. Beliau lalu menyuruh anjing itu dikeluarkan. Setelah itu datang Jibril. Rasulullah berkata, “Engkau berjanji kepadaku untuk datang di waktu tadi, aku pun duduk menantimu namun ternyata engkau tidak kunjung datang.” Jibril memberi alasan, “Anjing yang tadi berada dalam rumahmu mencegahku untuk masuk karena sungguh kami tidak akan masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya ada anjing dan tidak pula masuk ke rumah yang ada gambar.” (HR. Muslim no. 5478)

Dengan demikian, haram bagi seorang muslim memelihara anjing[[1]] tanpa ada kebutuhan, terkecuali anjing untuk berburu, anjing penjaga kebun, atau penjaga hewan ternak/peliharaan, sebagaimana pengecualian yang disebutkan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma yang akan datang penyebutannya.

Apakah boleh memelihara anjing untuk menjaga rumah? Dalam hal ini ada perselisihan pendapat. Satu pendapat mengatakan tidak boleh sesuai zhahir hadits yang ada. Namun pendapat yang paling shahih menurut Al-Imam An-Nawawi rahimahullah adalah boleh dikarenakan ada kebutuhan, wallahu a’lam. (Al-Minhaj, 10/480)

Barangsiapa memelihara anjing tanpa kebutuhan maka ia terkena ancaman hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ ضَارٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَطاَنِ

“Siapa yang memelihara anjing kecuali anjing penjaga ternak atau anjing berburu berkurang dua qirath pahala amalannya setiap hari.” (HR. Al-Bukhari no. 5482 dan Muslim no. 3999)

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menyatakan, anjing itu memiliki beragam warna, namun khusus anjing berwarna hitam dinyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai setan ketika dipertanyakan kepada beliau, “Apa bedanya anjing merah atau anjing putih dengan anjing hitam?” Beliau menjawab:

الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيطَانٌ

“Anjing hitam adalah setan.”

Anjing hitam ini bila lewat di hadapan orang yang sedang shalat akan memutus shalat orang tersebut sehingga ia harus mengulangi shalatnya dari awal. Demikian pula bila anjing ini lewat di antara orang yang shalat dan sutrahnya.

Mayoritas ulama berpendapat, anjing hitam tidak boleh dijadikan anjing pemburu karena anjing ini setan, walaupun ia telah diajari dan ketika dilepas untuk berburu pemiliknya telah mengucapkan basmalah. Sebagaimana orang kafir dari kalangan bani Adam yang tidak halal bagi kita memakan hewan buruannya, terkecuali bila ia seorang Yahudi atau Nasrani, demikian pula setan berupa anjing tidak sah buruannya.

Adapun anjing selain warna hitam tidaklah membatalkan shalat dan boleh dijadikan hewan pemburu sesuai syarat-syarat yang diterangkan para ulama.

Sementara memelihara anjing tanpa kebutuhan hukumnya haram termasuk dosa besar. Sebagai hukumannya, orang yang memelihara anjing itu dikurangi pahala amalannya setiap hari sebesar dua qirath. Satu qirath sendiri kata Rasulullah adalah semisal gunung Uhud. Dikecualikan dari pengharaman ini adalah bila anjing itu dipelihara untuk dijadikan hewan pemburu atau penjaga ladang agar tidak dirusak oleh hewan-hewan ternak, atau anjing itu dipelihara sebagai penjaga ternak, baik berupa unta, kambing, ataupun sapi. Sehingga ternak-ternak ini terjaga dari serigala ataupun dari pencuri. Anjing bisa pula dimanfaatkan untuk menjaga harta, misalnya seseorang memiliki harta di satu tempat dan tidak ada penjaga keamanan (seperti satpam) di tempat tersebut, lalu ia memanfaatkan anjing sebagai penjaga hartanya. Hal ini dibolehkan. Adapun selain kepentingan yang telah disebutkan maka hukumnya haram.

Termasuk hikmah Allah , Dia jadikan yang buruk itu untuk yang buruk dan yang jelek untuk yang jelek. Orang-orang kafir dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan atheis di negeri timur ataupun barat, biasa memelihara anjing yang mereka rawat sedemikian rupa dengan penuh kasih sayang. Demikianlah Allah subhanahu wa ta’ala jadikan orang-orang yang buruk dan jelek tersebut menyayangi hewan yang buruk… (Syarhu Riyadhish Shalihin, 4/334-336)

Hendaklah peringatan yang seperti ini menjadi perhatian kita. Karena ada di antara keluarga muslim, yang mungkin mereka jahil (tidak tahu) atau bersikap masa bodoh atau sok meniru orang Barat, memelihara anjing di rumah mereka sebagai hewan kesayangan keluarga. Anjing tadi bebas keluar masuk ke rumah tuannya. Bahkan masuk ke kamar dan ikut tidur di tempat tidur tuannya. Anjing itu pun biasa menjilati bejana/wadah makan dan minum mereka, sementara pemiliknya tiada perhatian akan hal ini. Padahal bejana/wadah tadi ternajisi karenanya dengan najis yang berat sehingga pembasuhannya harus sampai tujuh kali, salah satunya dengan tanah, sebagaimana datang pengajarannya dari As-Sunnah yang shahihah[[2]].

  • Ucapan yang baik dan wajah yang cerah

Setan pasti punya ambisi untuk menghancurkan masyarakat Islam hingga ia membuat rencana, makar dan tipu daya. Di antara rencana yang diprogramkannya adalah menggoyahkan pondasi rumah tangga keluarga muslim, di mana rumah tangga ini merupakan batu bata awal dalam bangunan sebuah masyarakat. Sebagaimana telah kita ketahui dari hadits Jabir ibnu Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirim kan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim no. 7037)

Dengan terpisahnya pasangan suami istri niscaya pada akhirnya akan hancur pondasi suatu masyarakat. Hancurnya masyarakat manusia inilah yang didambakan oleh si musuh besar anak manusia.

Mengingat akan hal ini dan yang lainnya, maka sudah menjadi kemestian bagi seorang suami untuk bergaul dengan baik terhadap istrinya, karena Allah telah memerintahkan

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah kalian (para suami) terhadap mereka (para istri) dengan baik.” (An-Nisa: 19)

Suami selaku qawwam[[3]] dalam sebuah keluarga semestinya memberikan kalimat-kalimat yang baik kepada istrinya, sehingga setan tidak memancing di air keruh dalam hubungan dia dengan istrinya. Bukankah Rabbul Izzah telah berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Katakanlah (ya Muhammad) kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaknyalah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al-Isra’: 53)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, “Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan hamba-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk menyuruh hamba-hamba Allah yang beriman agar berbicara dan bercakap-cakap menggunakan perkataan-perkataan yang paling baik dan kalimat-kalimat thayyibah/bagus. Karena bila mereka tidak melakukan hal tersebut, niscaya setan akan menimbulkan perselisihan di antara mereka dan meningkatkan ucapan kepada perbuatan/tindakan. Hingga terjadilah kejelekan, pertikaian dan perkelahian. Karena setan, musuh Adam dan anak turunan Adam sejak saat iblis (nenek moyang para setan) menolak untuk sujud kepada Adam, dan permusuhannya ini tampak nyata….” (Tafsir Al Qur’anil Azhim, 5/66)

Al-‘Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata saat menafsirkan ayat di atas, “Ini merupakan perintah untuk mengucapkan seluruh perkataan yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah, baik berupa membaca Al-Qur’an, berzikir, menyampaikan ilmu atau diskusi ilmiah, amar ma’ruf, nahi mungkar dan kalimat-kalimat baik yang lembut terhadap sesama makhluk dengan perbedaan martabat dan kedudukan mereka. Bila beredar suatu perkara di antara dua perkara yang baik, maka kita diperintah untuk mengutamakan yang paling baik di antara keduanya, jika memang tidak mungkin keduanya disatukan atau dikumpulkan.

Perkataan yang baik akan mengajak kepada seluruh akhlak yang indah dan amal yang shalih. Karena siapa yang dapat menguasai lisannya niscaya ia dapat menguasai seluruh perkaranya.

Firman Allah : “Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka”, yaitu setan mengupayakan perkara yang dapat merusak agama dan dunia mereka. Maka obat dari hal ini adalah mereka tidak menaati setan yang mengajak mereka agar mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak baik. Bahkan hendaknya mereka bersikap lunak di antara sesama mereka agar mematahkan setan yang ingin menimbulkan perselisihan di antara mereka. Karena setan adalah musuh mereka yang hakiki, hingga pantaslah mereka memeranginya. Apatah lagi si musuh ingin mengajak mereka, agar mereka termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.

Karena setan ini terus berupaya menimbulkan perselisihan di antara mereka dan permusuhan, maka yang seharusnya dan semestinya mereka lakukan adalah berupaya melawan musuh mereka dan mematahkan jiwa-jiwa mereka yang memerintahkan kepada kejelekan, di mana setan masuk dari arah tersebut. Dengan begitu, berarti mereka menaati Rabb mereka. Akan luruslah perkara mereka, dan mereka akan terbimbing kepada kebenaran/kelurusan.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 460)

Kata-kata yang baik akan melapangkan dada, melanggengkan pergaulan, menebarkan kebahagiaan di antara suami istri, mewujudkan ketenangan yang diharapkan dari diciptakannya para istri untuk para lelaki, memperkuat unsur-unsur mawaddah/cinta dan menyuburkan rahmah/kasih sayang di antara suami istri. Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian pasangan hidup/istri-istri dari jenis kalian sendiri, agar kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

Bayangkanlah keadaan sebuah rumah tangga di mana sang suami suka berkata kasar kepada istrinya, menghardik dan membentak. Atau ia suka mengungkit apa yang telah diberikannya kepada istrinya, seperti mengatakan, “Aku yang capek cari duit. Kamu enak aja tinggal pakai. Makanya harus tahu diri, jangan seenaknya menggunakan duitku! “

Kalimat seperti ini tentunya melukai seorang istri, walaupun memang dalam kenyataannya si suami yang mencari nafkah dan uang yang ada dalam rumah adalah miliknya. Kalau tujuan si suami hendak menegur istrinya dalam hal pengaturan belanja rumah tangga, maka suami yang cerdas tentunya tidak akan mengungkapkannya dengan kalimat yang dapat menorehkan luka di dada istrinya.

Lalu apa persangkaan kita terhadap si suami bila ia suka mengucapkan kalimat demikian, padahal istrinya telah berupaya hemat dalam membelanjakan uang yang diberikan suaminya dan berlaku amanah terhadap harta suaminya? Tidak lain karena lisannya yang memang buruk dan tidak pandai bergaul baik dengan istrinya. Kepada suami yang demikian, hendaklah ia menyadari keburukan lisannya. Jangan terus menyakiti istrinya. Waspadalah dari kehancuran mahligai yang telah dibangun bersama istrinya, karena seperti yang telah disinggung di atas bahwa setan bisa menyusup antara dia dan istrinya untuk menimbulkan perselisihan di antara mereka.

Di sisi lain, seorang istri juga lebih utama dituntut untuk bertutur kata yang baik kepada suaminya dan penuh adab dalam menyampaikan ucapan, sehingga istri tidak mengangkat suaranya lebih dari suara suaminya.

[Insya Allah bersambung….]

Sumber: Dikutip dari situs Majalah Asy-Syariah Online edisi no. 56 dan edisi no. 57. (http://asysyariah.com)

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ

——————————————

[[1]] Pernah datang larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membunuh semua anjing kecuali anjing berburu atau anjing penjaga kambing/ternak. Namun kemudian larangan tadi mansukh (dihapus), sehingga semua anjing tidak boleh dibunuh, kecuali anjing yang berwarna murni hitam dan punya dua titik putih di atas kedua matanya. Sebagaimana hal disebutkan antara lain dalam hadits berikut ini:

Jabir ibnu Abdillah radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Rasulullah memerintahkan kami membunuh anjing-anjing, sampai ada seorang wanita datang dari dusun membawa anjingnya kami pun membunuh anjingnya. Kemudian setelahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh anjing… ” (HR. Muslim no. 3996)

[[2]] Yaitu hadits Rasulullah:

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَن يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابٌِ

“Sucinya bejana salah seorang kalian bila dijilati (bagian dalamnya) oleh anjing adalah dengan mencucinya sebanyak tujuh kali, cucian pertamanya dengan tanah.” (HR. Muslim)

Dalam satu lafadz ada tambahan:

فَلْيُرِقْهُ

“Tuanglah airnya ke tanah.”

Maksudnya sebelum bejana tadi dicuci, hendaknya air yang ada di dalamnya dituang/dibuang.

[[3]] Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ

“Kaum lelaki adalah qawwam/pemimpin atas kaum wanita….” (An-Nisa’: 34)