Templates by BIGtheme NET

Kesalahan-Kesalahan Yang Banyak Tersebar Di Umat Islam (Bag.4)

Booklet AL-ILMU Kendari edisi Jumat, 18 Sya’ban 1436 H / 05 Juni 2015

penghapusبسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM AQIDAH DAN TAUHID

KETIGA: Berbagai Bid’ah Dan Sebagian Hal-hal Yang Terlarang Yang Berkaitan Dengan Tauhid.

3. Mengadakan Berbagai Macam Acara Peringatan Bid’ah; Seperti Ulang Tahun, Tahun Baru, Hari Ibu dan Yang Lainnya

Hal itu semacam ini terlarang dari 3 sisi:

Pertama: Karena merupakan bid’ah yang tidak ada tuntunannya dari syari’at, tetapi manusialah yang mengada-adakannya karena mengikuti hawa nafsu mereka. Perayaan dan berbagai kegembiraan dan kesenangan yang ada padanya merupakan ibadah, sehingga tidak boleh mengada-adakan sedikit pun darinya, tidak boleh menyetujui, dan juga tidak boleh meridhainya.

Kedua: Karena umat Islam dalam setahun memiliki dua hari raya, tidak ada yang lainnya. Yaitu Idhul Fithri ketika manusia bergembira setelah menyelesaikan puasa, dan Idhul Adha dan hari-hari Mina (tasyriq) setelahnya.

Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasai’iy, dan selain mereka telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Uqbah bin ‘Amir dari Nabi shallallahu alaihi was sallam beliau bersabda:

يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَام

“Hari Arafah, Hari Nahr, dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita umat Islam.” (Lihat: Shahih Sunan Abu Dawud, II/73 no. 2419 -pent)

Al-Bukhary dan Muslim juga meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” (HR. Al-Bukhary no. 3931 dan Muslim no. 892 -pent)

Jadi pada sabda beliau yang menyandarkan hari raya kepada kita menunjukkan pengkhususan hari raya dengan agama.

Ketiga: Karena hal itu menyerupai (tasyabbuh) dengan orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan selain mereka dalam hal mengada-adakan peringatan yang tidak disyariatkan. Dan tidak diragukan lagi bahwasanya kita diperintahkan untuk tidak menyerupai mereka dan memutus hal-hal yang bisa menyeret kepada perbuatan menyerupai mereka.

4. Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban

Menghidupkan malam ini termasuk mengkhususkan sebuah malam tanpa dalil sehingga hal itu termasuk bid’ah. Adapun hadits-hadits yang berkaitan dengannya maka tidak ada yang shahih menurut para ulama, sedangkan dalil-dalil yang melarang bid’ah juga mencakupnya.

5. Mengkhususkan Bulan Rajab Dengan Berpuasa

Ini juga termasuk perkara yang diada-adakan tanpa dalil. Jadi tidak ada sebuah hadits pun yang shahih yang menyebutkan keutamaan puasa di bulan Rajab. Bahkan riwayat yang ada sangat lemah sekali sehingga tidak boleh bersandar kepadanya dan tidak boleh merasa senang dengannya. Perlu diketahui bahwa telah diriwayatkan dari Umar tentang larangan darinya, hanya saja pada sanadnya ada cacat.

6. Mengkhususkan Hari atau Pekan atau Bulan Dengan Ibadah Yang Tidak Disyariatkan

Pengkhususan semacam itu termasuk bid’ah, karena pengkhususan musim ibadah hanyalah boleh yang datang dari syari’at. Jadi apa yang dalil-dalil syari’at menunjukkan disyariatkannya maka diamalkan, sedangkan apa yang tidak ada dalil-dalil yang mengkhususkan pada waktu tertentu untuk beribadah maka tidak dikhususkan. Sehingga mengamalkan padanya dan mengkhususkannya dengan ibadah termasuk perkara yang diada-adakan dalam agama.

7. Mengamalkan Ibadah Apa Saja Dalam Rangka Mendekatkan Diri Kepada Allah Tanpa Ada Asalnya Dari Syari’at

Jadi ini semua termasuk bid’ah, sedangkan bid’ah adalah perkara yang tercela dalam syari’at. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi was sallam:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim -pent)

Hadits ini sifatnya umum mencakup semua perkara yang diada-adakan yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga itu semua sesat. Jadi bid’ah dalam perkara agama tidak ada yang baik, bahkan semua bid’ah adalah buruk, tidak boleh mendatanginya dan tidak boleh mengamalkannya.

Semua kebaikan adalah pada ibadah yang dilakukan oleh para shahabat Nabi shallallahu alaihi was sallam yang mereka warisi dan mereka teladani dari Rasulullah shallallahu alaihi was sallam yang membawa petunjuk. Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:

كُلُّ عِبَادَةٍ لَمْ يَتَعَبَّدْهَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ فَلَا تَعَبَّدُوْهَا فَإِنَّ الْأَوَّلَ لَمْ يَتْرُكْ لِلْآخِرِ مَقَالًا

“Semua yang dianggap sebagai ibadah namun tidak pernah dilakukan oleh para shahabat Muhammad maka kalian jangan melakukannya, karena generasi awal (dari umat ini) tidak meninggalkan bagi generasi akhirnya sebuah masalah pun tanpa penjelasan.”

Dan alangkah baiknya ucapan orang yang mengatakan:

وَكُلُّ خَيْرٍ فِيْ اتِّبَاعِ مَنْ سَلَف وَكُلُّ شَرٍّ فِيْ ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَف

Setiap kebaikan adalah dengan mengikuti para Salaf, Sedangkan semua keburukan karena perkara yang diada-adakan oleh orang-orang belakangan

KESALAHAN-KESALAHAN DALAM BERSUCI

1. Mengucapkan Niat Ketika Hendak Berwudhu

Hal ini tidak boleh karena niat tempatnya di hati, dan mengucapkannya tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan teladan kita shallallahu alaihi was sallam. Jadi niat yang sesuai dengan syari’at adalah dengan memaksudkan dari wudhunya tersebut untuk mengerjakan shalat, atau untuk menyentuh mushaf Al-Qur’an atau selainnya. Seperti inilah niat, karena pengertian niat adalah tujuan dari hati untuk melakukan ibadah. Nabi shallallahu alaihi was sallam hanya menganjurkan untuk memulai ibadah wudhu dengan membaca bismillah saja. Jadi memulainya dengan mengeraskan niat menyelisihi bimbingan dan perintah yang ditunjukkan oleh beliau.

2. Tidak Memperhatikan Wudhu dan Mandi yang Diperintahkan Oleh Syari’at, Serta Meremehkan Urusan Bersuci dan Memahami Hukum-hukumnya

Ini termasuk sikap yang seharusnya dijauhi oleh seorang muslim, karena bersuci, berwudhu, dan mandi (junub) merupakan syarat sahnya shalat bagi orang yang berhadats. Jadi siapa yang meremehkannya, maka shalatnya tidak sah karena dia telah meremehkan sesuatu yang sifatnya wajib dan merupakan syarat.

Nabi shallallahu alaihi was sallam pernah berkata kepada Laqith bin Shabirah radhiyallahu anhu:

أَسْبِغِ الْوُضُوْءَ

“Sempurnakanlah wudhu!” Diriwayatkan oleh para penyusun kitab-kitab Sunan dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah. (Lihat: Shahih Sunan Abu Dawud no. 130 -pent)

Dan dalam Ash-Shaihain disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bersabda:

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ

“Celaka bagi tumit-tumit (yang tidak terbasuh secara sempurna ketika berwudhu) karena akan terkena api neraka.” (HR. Al-Bukhary no. 60 dan Muslim no. 240 -pent)

Hal itu karena tumit merupakan bagian yang terkadang dilupakan, maka hal ini menunjukkan bahwa anggota wudhu selain tumit sama hukumnya, sehingga wajib untuk menyempurnakan wudhu pada semua anggota wudhu. Caranya dengan meratakan air kepada semua anggota wudhu tersebut, kecuali kepala karena cukup dengan diusap saja mayoritas bagiannya bersamaan dengan telinga, karena telinga juga termasuk bagian dari kepala. Hal ini berdasarkan riwayat yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi was sallam bahwa beliau bersabda:

الْأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ

“Kedua telinga termasuk bagian dari kepala.” (Lihat: Silsilah Ash-Shahihah no. 36 -pent)

Jadi sepantasnya bagi seorang muslim untuk mempelajari hukum-hukum wudhu, dan dianjurkan baginya untuk berwudhu sebanyak 3 kali secara sempurna dengan meneladani Nabi Muhammad shallallahu alaihi was sallam. Juga dalam rangka agar mendapatkan keutamaan shalat dengan wudhu yang seperti itu sifatnya. An-Nasa’iy dan Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Utsman radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi was sallam beliau bersabda:

مَنْ أَتَمَّ الْوُضُوْءَ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، فَالصَّلَوَاتُ الْمَكْتُوبَاتُ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ

“Siapa saja yang menyempurnakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, maka shalat-shalat yang wajib merupakan penghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan pada waktu diantara shalat-shalat tersebut.” (Lihat: Shahih Muslim no. 231 -pent)

Hadits-hadits lain yang menjelaskan keutamaan menyempurnakan wudhu yang diantaranya adalah menghapus dosa-dosa kecil masih banyak.

3. Was-was Ketika Berwudhu dengan Melakukannya lebih dari Tiga kali dan Ragu-ragu dengan Wudhunya.

Ini termasuk was-was dari syaithan, karena Rasulullah shallallahu alaihi was sallam tidak pernah menambah wudhunya lebih dari tiga kali. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhary bahwasanya beliau berwudhu sebanyak tiga kali. Maka wajib atas seorang muslim untuk membuang was-was dan keraguan setelah dia menyempurnakan wudhunya dan jangan menambah lebih dari tiga kali. Hal ini sebagai bentuk mengusir was-was yang hal itu termasuk dari makar syaithan

4. Berlebihan Menggunakan Air.

Ini termasuk perkara yang dilarang berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

وَلَا تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141)

5. Berdzikir di Tempat Buang Hajat atau Membawa Sesuatu yang Padanya Terdapat Dzikir.

Hal ini merupakan perkara yang makruh sehingga sepantasnya seorang muslim untuk menjauhinya. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwasanya ada seseorang melewati Rasulullah shallallahu alaihi was sallam ketika beliau sedang buang air kecil. Maka orang itu mengucapkan salam kepada beliau namun beliau tidak menjawabnya. Hal itu karena menjawa salam termasuk dzikir.

6. Mengusap Kepala Lebih dari Sekali.

Hal ini menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu alaihi was sallam, karena beliau hanya mengusap kepala sekali saja. Hal itu berdasarkan riwayat yang shahih dari Ali radhiyallahu anhu yang menjelaskan sifat wudhu Nabi shallallahu alaihi was sallam dengan mengatakan:

وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَاحِدَةً

“Beliau mengusap kepalanya sekali.”

Riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan An-Nasaiiy dengan sanad jayyid. Abu Dawud mengatakan: “Hadits-hadits shahih yang diriwayatkan dari Utsman semuanya menunjukkan bahwa mengusap kepala hanya dilakukan sekali saja.”

7. Mengusap Lutut.

Ini termasuk termasuk kesalahan, bahkan sebagian ulama menganggapnya termasuk bid’ah, karena sama sekali tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi was sallam padanya. Tetapi yang diriwayatkan tentangnya hanyalah riwayat-riwayat yang palsu dan mungkar. Sebagian ulama memang adayg menyebutkan tentang mengusap lutut, hanya saja ulama tersebut tidak mengetahui bahwa hadits itu tidak shahih. Oleh karena inilah maka tidak disyariatkan untuk mengusapnya, dan sepantasnya untuk mengingatkannya demi menjaga syari’at dari tambahan yang diada-adakan.

8. Mengusap Bagian Bawah Ketika Mengusaf Khuf atau Kaos Kaki.

Ini merupakan kesalahan dan ketidaktahuan, karena Nabi shallallahu alaihi was sallam mengusap khuf (sepatu yang menutupi mata kaki -pent) pada bagian atasnya. Hal itu berdasarkan riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzy dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu anhu dia mengatakan: “Saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam mengusap bagian atas kedua khuf beliau.”

Sedangkan Abu Dawud meriwayatkan dari Ali radhiyallahu anhu dia berkata: “Seandainya agama itu berdasarkan akal, tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap dibandingkan bagian atasnya, namun saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi was sallam mengusap bagian atas dari kedua khuf beliau.”

9. Beristinja’ Ketika Buang Angin.

Tidak perlu istinja’ (cebok) ketika buang angin. Istinja’ hanya wajib dilakukan ketika buang air besar atau buang air kecil. Jadi keluarnya angin tidak menharuskan untuk melakukan istinja’ sebelum berwudhu’ sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang. Riwayat yang ada hanya menjelaskan bahwa keluarnya angin termasuk hadats yang mengharuskan untuk berwudhu’. Segala puji bagi Allah yang memberikan kemudahan. Al-Imam Ahmad berkata: “Di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya tidak ada perintah untuk melakukan istinja’ karena buang angin, yang wajib hanyalah dengan berwudhu’.”

[Sumber Artikel: Kitab Al-Minzhaar Fii Bayaani Katsiirin Minal Akhtha’ Asy-Syai’ah, karya Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh (Menteri Urusan Agama Kerajaan Arab Saudi)]

Sumber: http://forumsalafy.net

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ