Templates by BIGtheme NET

HUKUM TERKAIT HARI RAYA (IED) ORANG KAFIR DAN MUSYRIK

gelas-pecah

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman memuji hamba-hamba yang bertaqwa (عباد الرحمن)

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

”Dan (mereka adalah) orang orang yang tidak menyaksikan (الزور )”. (QS. Al-Furqon:72)

Dijelaskan oleh para ahlul ilmi seperti yang disebutkan oleh Syaikhul Islam di dalam Iqtidho:

Abu Bakar Al-Khallaal meriwayatkan dengan sanadnya didalam kitab “Al-Jami’” dengan sanadnya dari Muhammad bin Siirin tentang firman Allah ta’ala tersebut beliau berkata” itu adalah  الشعانين (salah satu hari raya nasrani).

Demilian pula beliau menyebutkan dari mujahid berkata: “Itu adalah hari raya kaum musyrikin”

Dan demilian pula Ar-Rabi’ bin Anas berkata; “(Itu adalah) hari raya kaum musyrikin”

Dan berkata Al-Qodhi Abu Ya’la: (Itu tentang) permasalahan tentang larangan dari menghadiri hari-hari raya kaum musyrikin

Abu Asy-Syaikh Al-Ashbahaani meriwayatkan dengan sanadnya (dalam permasalahan) syarat-syarat Ahlu Zimmah dari Adh Dhohhak tentang firman Allaah pada surat al Furqon: 72 (diatas) beliau berkata: (itu) hari raya kaum musyrikin

Dari beberapa tafsiran diatas dari As-Salaf tentang makna Az-Zuur menjelaskan kepada kita bahwa diantara sifat hamba Allah yang dipuji, bahwa mereka menjahui hari raya-hari besar kaum musyrikin, dengan tidak menghadiri dan tidak menyaksiknnya.

Sehingga termasuk didalam pengertian “hari raya” meskipun amalan yang dilakukan hanya sekedar bermain dan bergembira di hari tersebut, seperti perayaan tahun baru, dan lain-lain. Apalagi yang bersifat ibadah seperti natal dan lain-lain.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata; “Jauhilah musuh-musuh Allah yahudi dan nasrani pada hari raya mereka hari dimana mereka berkumpul, karena kemurkaan (Allah ta’ala) turun kepada mereka maka saya takut akan menimpa kalian dan kalian tidak mengetahui hati mereka lalu kalian berakhlaq dengan akhlaq mereka”

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro dan Al-Bukhori dalam Tarikhnya dari Umar bin Al-Khottob radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Jauhi musuh musuh Allah pada hari raya mereka.

Hari raya (ied) adalah nama yang ada padanya beberapa hal;

1. Hari yang berulang (setahun sekali atau beberapa kali, atau sebulan atau sepekan atau di hari tertentu)

2. Ada terbentuk perkumpulan manusia

3. Ada amalan yang menyertainya baik amalan ibadah atau amalan adat kebiasaan

Sehingga termasuk didalam pengertian “hari raya” meskipun amalan yang dilakukan hanya sekedar bermain dan bergembira di hari tersebut, seperti perayaan tahun baru, dan lain-lain, apalagi yang bersifat ibadah seperti natal dan lain-lain.

Maka syariat telah menggantikan dari hari ied di masa jahiliah tersebut -walaupun hanya sekedar bermain dan bergembira padanya- dengan 2 hari raya dalam islam tersebut, maka ini mengharuskan meninggalkan semua bentuk ied selain yang telah disyariatkan untuk kita kaum muslimin,

Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang ke kota madinah (dalam hijrohnya) sementara mereka (sahabat al-anshor) telah memiliki dua hari yang mereka bermain-main padanya, maka beliau bertanya: “Dua hari apakah ini?” mereka menjawab: “Kami dahulu biasa bermain-main padanya di masa jahiliah, maka Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dengan yang lebih baik dari 2 hari tersebut, yaitu ‘idul adha dan ‘idul fitri (HR. Ahmad dan Abu Daud)

> Apakah hari natal termasuk hari ied?

Jelas termasuk, itu iednya kaum nasrani, ada perkumpulan di hari tersebut, dan itu selalu terulang tiap tahunnya, dan ada kegiatan yang dilakukan yang sifatnya ibadah bagi mereka.

Tidak dengan merayakannya, atau memeriahkannya, ikut membantunya, atau mempersiapkannya, atau bahkan sekedar menghadirinya dan menontonnya, maka seorang muslim menjauhkan dirinya dari itu semua.

> Apakah perayaan tahun baru termasuk ied?

Benar, termasuk ied. Bukankah itu selalu terulang? Bukankah ada perkumpulan yang terbentuk? Bukankah ada kegiatan/amalan yang dilakukan, walaupun sekedar membakar kembang api, atau meniup terompet, atau berdoa dan bergembira, atau bakar jagung bersama, bukankah demikian?

Maka berarti termasuk ied yang dilarang untuk disaksikan….

Maka yang wajib bagi setiap muslim untuk mencukupkan dengan apa yang telah disyariatkan dari 2 dua hari raya besar itu dan menjauhkan diri dari mengikuti orang orang kafir serta condong kepada mereka. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman  janganlah kalian menjadikan orang yahudi dan nasrani sebagai penolong, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, barang siapa yang berloyal kepada mereka maka dia bagian dari mereka…. ”  (QS.Al Maidah: 51)

Dan diantara bentuk loyal kepada orang orang kafir adalah:

1. Ridho dengan kekufuran mereka, atau tidak mengkafirkan mereka, atau ragu dengannya, atau bahkan membenarkan keyakinan kufur atau agama mereka,

2. Menyerupai mereka dalam ibadah mereka, atau akhlaq, kebiasaan mereka. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

3. Ikut serta bersama pada hari besar mereka dengan membantu, atau menghadiri, atau mempersiapkannya dan memeriahkannya.

Berkata Al-Imam Al-Baghawi di dalam tafsirnya terkait ayat diatas: “Keimanan seorang mu’min akan rusak dengan mencintai/loyal kepada orang kafir”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam sunannya dari Tsabit bin Adh-Dhohhaq radhiallaahu ‘anhu berkata; Ada seseorang yang bernazar hendak menyembelih ontanya di daerah buwaanah, maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya:

”Apakah di sana ada sesembahan jahiliyyah yang pernah disembah?” Maka mereka (para sahabat) menjawab: “Tidak” Beliau bertanya lagi: ”Apakah di sana ada ied/perayaan mereka yang pernah diadakan?” Mereka menjawab: “Tidak” Maka kata beliau:  “Tunaikanlah nazarmu, karena tidak boleh menunaikan nazar dalam perkara bermaksiat kepada Allah dan tidak pula pada sesuatu yang tidak dimampui manusia.”

Maka hadist diatas menunjukkan kepada kita bahwa menyembelih atau demikian pula ibadah yang lainnya apabila dilakukan di tempat yang dahulu pernah ada dilakukan kesyirikan di situ atau pernah ada perayaan kesyirikan atau hari besar mereka adalah kemaksiatan kepada Allah ta’ala.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah:

”Maka apabila menyembelih (untuk Allah) ditempat yang dahulu pernah ada ied/perayaan kaum musyrikin menjadi terlarang (ibadah penyembelihan tersebut)

Lalu bagaimana lagi apabila bertepatan dengan ied mereka itu sendiri dengan melakukan sebagian amalan atau kegiatan yang biasa dilakukan di saat tersebut?

Allaahul musta’aan wa billaahi at taufiiq. Semoga bermanfaat Allaahu a’lam

Silahkan melihat referensi berikut:

• Iqtidho Ash Shiraathal Mustaqiim karya Syaikhul Islam

• Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid Syaikh Abdurrahman bin Hasan

[Penulis: Al-Ustadz Abu Nu’man Ibrohim hafizhahullah]

Sumber: TIS (Forum WhatsApp Thulab Ilmu Syar’i)

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ