Templates by BIGtheme NET

Demonstrasi, Penyampaian Aspirasi yang Tidak Syar’i

demo

Agama Islam adalah agama keteraturan, ketenangan, dan ketentraman. Kaum muslimin tunduk di bawah aturan – aturan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Mereka adalah manusia-manusia yang mudah diarahkan pada kebaikan.

فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ

Hanyalah orang yang beriman bagaikan unta yang jinak. Ke mana saja diarahkan (pada kebaikan), ia akan mengikutinya (H.R Ibnu Majah, dishahihkan Syaikh al-Albaniy).

Tabiat asal orang beriman mudah tunduk dalam kebaikan. Mereka bukan tipikal orang-orang yang sedikit-sedikit protes. Bahkan, dalam memperjuangkan haknya pun mereka akan bersikap ramah dan tidak melampaui batas.

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى

Semoga Allah merahmati seseorang yang ramah ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menuntut haknya (H.R al-Bukhari dari Jabir bin Abdillah)

Karakter calon penghuni Surga adalah yang santun dan mudah dalam muamalah. Bukan yang keras, kaku, ngotot memperjuangkan haknya.

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ

Maukah kalian aku khabarkan tentang orang yang diharamkan dari anNaar (Neraka)? Yaitu setiap orang yang dekat (dengan manusia), tenang, lembut, dan mudah (dalam muamalah) (H.R atTirmidzi, dinyatakan shahih lighoirihi oleh Syaikh al-Albaniy dalam Shahih atTarghib wat Tarhib).

Dalam hubungan pemerintah dan rakyatnya, kadangkala rakyat melihat hal-hal yang tidak benar dilakukan oleh pemerintahnya. Islam tidak menutup peluang menyampaikan nasehat. Bahkan, agama Islam adalah agama nasehat. Nasehat adalah ketulusan sikap menginginkan kebaikan pada saudaranya sesama muslim, bukan untuk mempermalukan atau membuka aibnya di hadapan pihak lain.

Agama Islam mengajarkan penyampaian nasehat kepada penguasa tidak secara terang-terangan (tersembunyi) dan disampaikan dengan santun dan lembut. Bahkan kepada Fir’aun sang panguasa yang congkak dan sangat kafir, Allah Ta’ala perintahkan Nabi Musa untuk mendakwahinya dengan lemah lembut:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)

Pergilah kalian berdua menuju Fir’aun, sesungguhnya ia melampaui batas. Ucapkanlah kepadanya ucapan yang lembut, semoga saja ia menjadi ingat dan takut (Q.S Thoha ayat 43-44).

Nabi shollallahu alaihi wasallam dan para Sahabatnya mengajarkan penyampaian nasehat kepada penguasa secara rahasia, cukup diketahui oleh sang penyampai nasehat dan pihak yang menjadi sasaran nasehat.

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ نَصِيحَةٌ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُكَلِّمُهُ بِهَا عَلَانِيَةً، وَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ، وَلْيُخْلِ بِهِ، فَإِنْ قَبِلَهَا قَبِلَهَا، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barangsiapa yang memiliki nasehat kepada penguasa, janganlah disampaikan dengan terang-terangan. Tapi peganglah tangannya dan bicarakan berdua dengannya. Jika ia mau menerima, maka akan diterima olehnya. Jika tidak, maka engkau telah menunaikan kewajibanmu terhadapnya (H.R al-Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Dzhilalul Jannah).

Sahabat Nabi Usamah bin Zaid pernah ditanya oleh seseorang:Tidakkah engkau masuk ke Utsman bin Affan dan berbicara kepadanya?

Usamah bin Zaid menjawab:

أَتَرَوْنَ أَنِّي لَا أُكَلِّمُهُ إِلَّا أُسْمِعُكُمْ وَاللَّهِ لَقَدْ كَلَّمْتُهُ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَهُ

Apakah engkau menganggap bahwa pembicaraanku dengannya pasti aku perdengarkan kepada kalian? Demi Allah aku telah berbicara berdua dengan dia saja (H.R Muslim no 5305)

Seseorang bertanya kepada Sahabat Nabi Ibnu Abbas tentang beramar ma’ruf nahi munkar terhadap pemimpin. Ibnu Abbas menjawab:

فَإِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَفِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ

Jika engkau harus melakukannya, maka lakukanlah dengan penyampaian yang hanya antara engkau dan dia saja yang tahu (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya).

Penyampaian aspirasi dengan demonstrasi jelas bertentangan dengan petunjuk Nabi dan para Sahabatnya tersebut. Seandainya, keburukan demonstrasi hanyalah karena tidak menjalankan bimbingan Nabi ini saja, itu sudah mudharat yang sangat besar. Tidak ada kerugian yang paling besar bagi seorang muslim selain ketika ia bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

…Dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (Q.S al-Ahzaab ayat 36)

Demonstrasi memiliki sekian banyak kerugian dan kerusakan. Sangat banyak jika diuraikan. Beberapa kerusakan yang ditimbulkan, di antaranya: bisa memicu cercaan terhadap pemimpin muslim yang juga dilarang Nabi, mengganggu jalan, mengakibatkan sebagian aktifitas kebaikan terganggu atau terhenti, bahkan dalam taraf tertentu bisa mengakibatkan rusaknya fasilitas umum, atau bisa memicu terjadinya bentrokan fisik yang menyebabkan sebagian kaum muslimin terluka atau bahkan meninggal dunia. Sungguh banyak kerugian dan mafsadah di dalamnya, hanya Allah Azza Wa Jalla saja yang bisa menghitungnya.

Penulis : Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahulloh