Templates by BIGtheme NET

Darul Islam: Eksistensi Syiar Islam dalam Sebuah Negara

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika hendak menyerang suatu negeri beliau menunggu saat masuknya waktu Subuh. Apabila terdengar kumandang adzan, beliau akan menahan diri tidak menyerang negeri tersebut. Namun, jika tidak terdengar, beliau akan menyerangnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ الْأَذَانَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ وَإِلَّا أَغَارَ فَسَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْفِطْرَةِ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجْتَ مِنْ النَّارِ فَنَظَرُوا فَإِذَا هُوَ رَاعِي مِعْزًى

Dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam akan menyerang (suatu tempat) jika terbit fajar. Beliau berusaha menyimak apakah terdengar adzan. Jika beliau mendengar adzan, beliau menahan diri (tidak menyerang). Jika tidak terdengar, maka beliau akan menyerangnya. Kemudian suatu ketika beliau mendengar seorang laki-laki melantunkan: Allaahu Akbar Allaahu Akbar. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Ia berada di atas fitrah. Kemudian laki-laki itu melantunkan: Asyahadu an laa ilaaha Illallaah…asyhadu an laa ilaaha illallaah…Rasulullah shollallahu alahi wasallam bersabda: engkau telah keluar dari anNaar. Kemudian para Sahabat berusaha melihat ke arah sumber datangnya kumandang adzan itu, ternyata itu adalah seorang penggembala kambing (H.R Muslim)

Al-Imam anNawawiy rahimahullah menyatakan: di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa adzan mencegah diserangnya penduduk suatu tempat. Karena itu menunjukkan keislaman mereka (syarh anNawawiy ala Muslim (4/84)).

Kumandang adzan yang terdengar di berbagai penjuru negeri adalah syiar Islam yang nampak jelas menandakan bahwa negeri itu adalah Darul Islam (Negara Islam).

Al-Imam Abu Bakr al-Isma’iliy rahimahullah menyatakan: dan mereka (para Imam Ahlul Hadits) berpendapat bahwa sebuah tempat adalah Darul Islam bukan Darul Kufr – seperti yang disangka oleh kaum Mu’tazilah – selama kumandang adzan untuk sholat dan iqomat nampak jelas dan penduduknya mudah mengerjakannya dalam keadaan aman (I’tiqod Aimmatil Hadits). Al-Imam Abu Bakr al-Isma’iliy adalah salah seorang Ulama bermadzhab Syafiiyyah yang meninggal di tahun 371 Hijriyah. Beliau adalah satu guru al-Hakim, Ulama hadits penyusun kitab al-Mustadrak.

Al-Imam asySyaukaaniy rahimahullah menjelaskan: Darul Islam adalah selama nampak dua kalimat syahadat dan sholat…hal yang menjadi patokan adalah nampaknya (syiar) kalimat. Jika perintah-perintah dan larangan-larangan di negeri itu milik (dalam kekuasaan) orang Islam, yang orang-orang kafir tidak bisa menampakkan kekufurannya kecuali jika diizinkan oleh orang Islam, maka itu adalah Darul Islam (as-Sailul Jaraar (1/976)).

Nampaknya syiar-syiar Islam seperti adzan, sholat berjamaah, masjid-masjid, dan pelaksanaan sholat Jumat dan sholat Ied adalah indikator suatu negeri disebut sebagai negeri Islam. Hal itu bisa dilihat dari mayoritas jumlah penduduknya.

Syaikh Muqbil rahimahullah menyatakan: Darul Islam (Negeri Islam) adalah negeri yang mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Bahkan meskipun pemimpinnya adalah sosialis, bukan orang yang beragama, namun negerinya bisa jadi negeri muslim. Inilah yang menjadi tolak ukur negeri muslim. Sedangkan Darul Harb adalah negeri yang mengalami pertempuran dengan kaum muslimin. Adapun Darul Kufr (negeri kufur) adalah negeri yang mayoritas penghuninya adalah orang-orang kafir (Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2209).

Jika syiar-syiar Islam nampak jelas dan lebih mendominasi, maka itulah negeri Islam. Meskipun penguasanya bukan muslim. Sedangkan jika syiar yang nampak seimbang antara syiar Islam dengan syiar kekufuran, penentunya bisa dilihat dari pemimpinnya. Jika pemimpinnya muslim dan menegakkan sholat, maka negeri itu adalah negeri Islam.

Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang rakyat memberontak kepada penguasanya meski rakyat dan penguasa itu saling membenci, selama penguasa tersebut menegakkan sholat:

وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ

Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian. Kalian melaknatnya dan mereka pun melaknat kalian. Ditanyakan kepada Nabi: Wahai Rasulullah, apakah dengan demikian kami mengkudetanya dengan pedang? Nabi bersabda: Jangan, selama mereka menegakkan sholat di tengah-tengah kalian (H.R Muslim dari Auf bin Malik)

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan: “Jika syiar-syiar Islam nampak di negeri-negeri ini, maka itu adalah negeri Islam. Itu adalah negeri Islam. Tersisa (kasus) bagi kita jika di negeri itu nampak syiar-syiar Islam dan juga syiar-syiar kekufuran. Misalkan jika di sana terdengar adzan, dilakukan sholat Jumat, tapi juga terdengar terompet-terompet Yahudi dan lonceng-lonceng Nashara di saat yang bersamaan. Di sana juga ditegakkan ibadah-ibadah Nashara dan Yahudi. Kita beri nama apa negeri yang demikian? Dalam kondisi demikian, kita kembalikan pada penguasa dan mayoritas penduduknya. Kadangkala penguasa tidak berdaya menghilangkan syiar-syiar kekufuran. Jika mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin dan para pemimpinnya adalah kaum muslimin, kita katakan: ini adalah negeri Islam. Meskipun di sana ada sebagian syiar-syiar kekufuran. Karena kemenangan jumlah dan kekuasaan ada pada kaum muslimin. Akan tetapi kemaksiatan-kemaksiatan tersebut (syiar-syiar kekufuran, pent)mereka tidak mampu menghilangkannya” (rekaman kaset Tafsir, no kaset 13 menit ke-26, http://www.sahab.net/forums/?showtopic=99710)

Penulis : Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman hafizhahullah