Templates by BIGtheme NET

Berbaktilah Kepada Kedua Orang Tuamu

BERBAKTILAH KEPADA KEDUA ORANG TUAMU

Ingatlah wahai saudaraku betapa besar jasa mereka mulai ketika kita dalam kandungan, maka janganlah durhaka kepada mereka.

Assyaikh Abdullah Ibnu Abdirrahim al-Bukhari Hafidzahullah.

Wahai orang-orang yang beriman berbakti kepada kedua orang tua adalah perkara yang agung keutamaan mereka lebih dahulu, perhatikanlah semoga Allah menjaga kalian *keadaan ketika masih kecil dan ingatlah lemahnya keadaan ketika dimasa bayi*

(Allah subhanahu wata’aala berfirman:)

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu aku masih kecil” (Al Isra: 24)

Ibumu telah mengandungmu dan melahirkanmu dengan susah payah,

mengandungmu selama sembilan bulan dalam keadaan lemah diatas kelemahan, tidaklah semakin bertambah pertumbuhanmu (dalam kandungannya) melainkan semakin bertambah beban dan kelemahannya.

Dan ketika dia melahirkan, dia melihat kematian didepan matanya (yaitu nyawa sebagai taruhannya),

namun ketika ia melihat kamu disampingnya (setelah lahir), langsung hilang rasa sakitnya dengan cepat, dia menunda semua pekerjaannya untukmu, dia memandangmu sebagai kebahagiaan dan perhiasan didalam hidupnya,

Kemudian dia menyibukkan malam dan siangnya untuk melayanimu,

Dia berikan kepadamu nutrisi kesehatan,

Susunya adalah makananmu, rumahmu adalah pangkuannya, kendaraanmu adalah tangannya, dadanya, dan punggungnya, dia menjaga dan memeliharamu,

Dia rela lapar asalkan kamu kenyang, rela bergadang asalkan kamu tidur, dia sangat mengasihi dan menyayangimu,

Jika dia tidak ada disisimu dan meninggalkanmu, kamu memanggilnya dan mengharapkan kedatangannya, apabila kamu terkena musibah, kamu berlindung kepada-nya.

Kamu menganggap semua kebaikan ada disisinya, kamu mengira kejelekan tidak akan mengenaimu apabila kamu dalam pelukan dan pengawasannnya.

Adapun ayahmu

فَأَنْتَ لَهُ مَجْبَنَةٌ مَبْخَلَةٌ

Kamu bisa membuatnya menjadi penakut dan pelit (karena sangat khawatir kepadamu)

dia berusaha dan bekerja,

melindungimu dari gangguan,

berpindah pindah dalam berpergian(untuk mencari nafkah untukmu) menjelajah tempat yang terpencil lagi sunyi,

menanggung bahaya untuk mendapatkan sesuap makan untukmu,

dia memberikan nafkah untukmu,

mendidik dan membimbingmu,

apabila engkau mendatanginya dia gembira,

apabila engkau menghadap kepadanya dia pun senang,

apabila dia keluar, engkau tergantung dengannya(ingin ikut pergi bersamanya) ,

Mereka berdua ini wahai saudaraku yang saya cintai kedua orang tuamu, demikianlah masa kecil dan bayimu,

Kenapa kebaikan ini disembunyikan?

Atas dasar apa kekerasan dan kekakuan (kedurhakaan kepada mereka)?

Seakan -akan kamulah orang yang memberikan kebaikan dan keutamaan (kepada mereka) !!

Sungguh sangat mengherankan.

Sumber:
https://youtu.be/zahOkcODpHs

KETENTUAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA

Assyaikh Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah

Taat pada kedua orang tua adalah termasuk dari taat kepada Allah, berbakti pada keduanya adalah termasuk kewajiban (dalam Islam) dan durhaka pada keduanya adalah termasuk dari dosa besar,

Taat pada keduanya mencakup ketaatan yang Allah cintai, dan mencakup dalam perkara yang hukumnya mubah (boleh),

Apabila mereka meminta untuk dibawa pergi, atau dibelikan suatu keperluan dan dia mampu untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk melakukan hal itu apabila tidak menimbulkan kemudharatan pada dirinya,

Demikian pula apabila mereka meminta kepadanya untuk dibuatkan kopi,

Atau minta diambilkan air untuk minum dan wudhu dan dia mampu untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk melakukannya meskipun dalam hal yang hukumnya (dalam Islam) mubah(boleh),

Kesimpulannya adalah wajib baginya untuk menaati keduanya dalam perkara ma’ruf (kebaikan) yang tidak mendatangkan kemudharatan padanya,

Dan tidak boleh menaati keduanya dalam perkara kemaksiatan,

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda:

إنما الطاعة في المعروف

Artinya: “Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan)”

Adapun apabila mereka memerintahkannya untuk melakukan kemaksiatan,

contohnya:

Mereka memerintahkannya untuk tidak shalat dimasjid,

Mereka memerintahkannya untuk minum khamr, merokok, berzina dan yang lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah maka tidak harus untuk ditaati,

Seperti contohnya (juga) mereka memerintahkannya untuk pergi ke negeri kesyirikaan, (maka tidak boleh ditaati)

(Atau) mereka memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang memudharatkannya, maka tidak boleh baginya untuk melakukannya,

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa salam

لا ضرر ولا ضرار

Artinya: “Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan orang lain”

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda:

إنما الطاعة في المعروف

Artinya: “Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan)”

Apabila dia diperintahkan oleh mereka untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf (kebaikan) dan sesuatu yang hukumnya mubah (boleh) dan perbuatan tersebut memberikan manfaat pada mereka berdua serta tidak memudharatkan dia, Maka tidak mengapa untuk menaati mereka dalam hal itu,

Adapun sesuatu yang memudharatkannya atau berupa kemaksiatan kepada Allah, maka tidak boleh untuk menaati mereka dalam hal itu,

*Namun tolaklah dengan ucapan yang baik, dan metode yang bagus, disertai dengan mendoakan taufik dan hidayah kepada mereka berdua,*

*Tolaklah dengan memberikan udzur kepada mereka bahwa tidak boleh menaati siapa saja dalam kemaksiatan,*

Tidak boleh menaati orang tua ataupun pemerintah dalam kemaksiatan,

Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda:

إنما الطاعة في المعروف لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

Artinya: “Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan) tidak boleh taat kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada sang pencipta”

Dikutip dari:
https://binbaz.org.sa/fatwas/8881/%D8%A7%D9%84%D8%B6%D8%A7%D8%A8%D8%B7-%D9%81%D9%8A-%D8%B7%D8%A7%D8%B9%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%8A%D9%86

APAKAH MASIH WAJIB TAAT PADA KEDUA ORANG TUA YANG MENINGGALKAN SHALAT?

Assyaikh Al-Allamah Muqbil Ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah boleh menaati kedua orang tua apabila mereka meninggalkan shalat?

Jawaban:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْروفا

Artinya: “Pergaulilah mereka didunia dengan baik” (Luqman: 15)

Dan Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda:

إنما الطاعة في المعروف

Artinya: “Hanyalah ketaatan itu dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan)”

Maka kamu taati kedua orang tuamu apabila mereka memerintahkanmu terhadap perkara kebaikan, dan jangan ditaati apabila mereka memerintahkanmu untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah.

Sumber:
http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=840

BERILAH NASIHAT PADA KEDUA ORANG TUAMU DENGAN BAHASA YANG PALING LEMBUT

Assyaikh Al-Allamah Abdul Aziz Ibnu Baz rahimahullah

Nasihat untuk orang tuamu adalah merupakan hak, mereka adalah manusia yang paling berhak mendapatkan nasihat darimu, mereka adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan kebaikanmu dalam perkara agama dan dunia,

Namun tidak boleh bagimu untuk bersikap kasar dan keras, sekalipun jika orang tuamu kafir, maka bagaimana jika dia seorang muslim yang melakukan sebagian maksiat?

Wajib bagimu untuk bersabar apabila kamu mendapati darinya akhlak yang jelek,

Hendaklah kamu terus menasihatinya, menyambung silaturahmi kepadanya berupa memberikan harta dan kebaikan kepadanya apabila kamu memiliki kemampuan ketika dia membutuhkan,

Wajib bagimu untuk mendoakan hidayah dan taufik untuknya, diwaktu siang dan malam, dalam keadaan sirr(tersembunyi) dan jahr(terang-terangan) sehingga dia bisa meninggalkan kemaksiatan yang telah dia lakukan seperti minum khamr,

Jangan sekali-kali kamu tidak taat kepadanya dan jangan kamu memutuskan hubungan dengannya,

Bahkan hendaklah kamu berbuat baik kepadanya dan sambunglah hubungan dengannya meskipun dia memboikotmu,

Hendaklah kamu berusaha agar mendapatkan cintanya dengan ucapan yang baik, dan metode yang bagus, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepadanya,

Tidakkah kamu mendengarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya: Bersyukurlah kepadaKu dan dua orang ibu dan bapakmu,hanya kepada –Kulah kembalimu” [Qs. Luqman : 14]

Kemudian Allah berfirman dalam ayat yang setelahnya

وإن جاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku, kemudian hanya kepada Kulah kembalimu, maka Kuberitaukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan [Qs Luqman : 15]

Yakni kedua orang tua yang kafir (memaksamu),

Allah perintahkan untuk mempergauli mereka berdua didunia dengan baik, padahal mereka memaksa anak mereka untuk melakukan kesyirikan, bersamaan dengan ini tetap diperintahkan untuk berbuat baik dan berterima kasih kepada keduanya, bersabar atas hal itu, serta mengikuti jalan kebenaran,

Inilah yang wajib bagimu dalam bermuamalah dengan kedua orang tua yang musyrik, tentu apabila mereka pelaku maksiat (bukan syirik) lebih berhak lagi bagimu (untuk berbuat baik kepadanya),

Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah wahai saudaraku, berbuat baiklah pada orang tuamu, berilah nasihat kepadanya dan bersabarlah dari ucapan jelek yang diucapkannya kepadamu,

Berdoalah dengan jujur agar Allah memberinya hidayah didalam sujudmu, dan selain ini dari keadaan-keadaanmu,

Mudah-mudahan Allah memberinya hidayah dengan sebab kamu, berikanlah bantuan harta kepadanya jika dia miskin dan kamu memiliki kemampuan, hal ini semuanya terdapat kebaikan untukmu dan termasuk dari perbuatan-perbuatan yang akan mendatangkan ridha Allah subhanahu wata’ala,

Orang tua itu tidak sama dengan manusia lain, bahkan mereka memiliki keistimewaan tersendiri,

Bertakwalah kamu kepada Allah dalam urusan orang tuamu, berbuat baiklah kepadanya, hendaklah selalu berikan nasihat kepadanya, musyawarah dengannya, namun dengan metode yang bagus,

Bukan dengan kekerasan dan kekakuan, namun dengan ucapan seperti:

“Wahai ayah semoga Allah menunjukimu ini adalah perkara yang berbahaya, perkara ini diharamkan Allah, wahai ayah hal ini terdapat kemudharatan padanya demikian dan demikian”

Pada waktu yang sesuai, diwaktu yang kamu pandang lebih diterima nasihatmu, kemudian mohonlah kepada Allah dan mintalah kepadaNya agar dia mendapatkan hidayah dan agar Allah menolongmu atas hal ini, dan agar Allah lapangkan dadanya untuk menerima kebenaran…إلخ

Dikutip dari:
https://binbaz.org.sa/fatwas/7618/%D8%B1%D9%81%D9%82-%D8%A7%D9%84%D9%88%D9%84%D8%AF-%D9%81%D9%8A-%D9%86%D8%B5%D9%8A%D8%AD%D8%AA%D9%87-%D9%84%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%87

Alih bahasa:
Abu Fudhail Abdurrahman Ibnu ‘Umar غفرالرحمن له.

⬆️ Dinukil dari Channel Telegram Majmu’ah Al-Imam Al-Fudhail Bin ‘Iyadh
▪️https://t.me/alfudhail/1757
▪️https://t.me/alfudhail/1758
▪️https://t.me/alfudhail/1759
▪️https://t.me/alfudhail/1762