Templates by BIGtheme NET

Ada Apa Dengan Hujan Yang Tidak Kunjung Tiba ?

Booklet AL-ILMU Kendari edisi Jumat, 27 Dzulhijjah 1436 H / 09 Oktober 2015 M

بسم الله الرحمن الرحيم
اَلْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىٰ آلِهِ وَ مَنْ وَالاَهُ، وَبَعْدُ

Akhir-akhir ini kita sering mendengar keluhan di berbagai pelosok daerah seputar kemarau panjang yang sedang menimpa negeri ini. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, hujan atau air secara umum sangat dibutuhkan oleh setiap makhluk di muka bumi ini sehingga sangat wajar jika minimnya air menjadi kendala yang sangat mengganggu rutinitas kehidupan. Sangat disayangkan, kebanyakan orang beranggapan bahwa kemarau panjang yang terjadi ini adalah suatu hal yang biasa, fenomena dan proses alam semata. Keadaan yang akan berubah dengan sendirinya. Mereka hanya menilai dan melihat sebab-sebab lahiriah dari suatu peristiwa, tanpa sedikit pun ingat bahwa sebab terbesarnya adalah akibat dari amal perbuatan manusia.

Para pembaca rahimakumullah, sesungguhnya perbedaan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain berupa diturunkannya hujan di suatu daerah namun di daerah yang lain tidak kunjung tiba, terkandung di dalamnya hikmah dan pelajaran bagi orang-orang yang mau merenunginya dan sekaligus peringatan bagi orang-orang yang berbuat kefasikan dan dosa. Allah subhanahu wa ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam sebuah ayat-Nya:

“Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira menjelang kedatangan rahmatNya (yakni hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).” (aI-Furqan: 48-50).

Kekeringan yang sedang melanda ataupun musibah yang lainnya bukan tanpa sebab dan bukan pula karena Allah berbuat zalim kepada para makhlukNya atau Allah subhanahu wa ta’ala tidak berbuat adil kepada mereka. Namun semua musibah itu terjadi disebabkan para makhluk tersebut yang berbuat zalim dan melakukan pelanggaran (kemaksiatan) kepada Rabbul ‘Alamin. Mushibah itu melanda karena dosa-dosa yang dilakukan para hamba.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman; “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Ruum: 41)

Al-Imam Abul ‘Aliyah rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di bumi maka sungguh dia telah membuat kerusakan padanya. Sesungguhnya kesejahteraan bumi dan langit itu dengan melakukan ketaataan.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Al Imam Mujahid rahimahullah ketika mengomentari ayat “Mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” (al Baqarah: 159) beliau menyatakan, “Jika bumi mengalami musim kering dan tandus maka hewan-hewan ternak berkata “Ini tidak lain disebabkan dosa-dosa yang diperbuat oleh manusia. Allah melaknat mereka.” (lihat Tafsir Ibn Katsir).

  • Istighfar dan Shalat Istisqa’

Para pembaca rahimakumullah, kita semua telah mengetahul bahwa Allah dan rasulNya telah mengajarkan kepada kaum muslimin solusi ketika mengalami musim kemarau. Diantara solusi tersebut adalah dengan bertaubat dan memperbanyak istighfar kepada Allah ‘azza wa jalla.

Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan kisah tentang nasehat nabi Nuh dan Hud ‘alaihimassalam kepada kaum mereka; “Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya dengan begitu Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut, memperbanyak harta dan anak-anak kalian dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun serta mengadakan pula di dalamnya sungai-sungai untuk kalian…” (Nuh: 10-12)

“Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepada kalian dengan berturut-turut serta Dia akan menambah kekuatan kepada kekuatan kalian dan janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)

Demikian pula nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menuntunkan kepada kita untuk melakukan shalat Istisqa’ (shalat meminta hujan), sebagaimana hal ini tersebutkan dalam beberapa hadits beliau. Diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abdulah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menuju Mushalla (tempat shalat) untuk meminta hujan. Maka tatkala hendak berdoa beliau menghadap kiblat dan membalik selendangnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketundukan dan kerendahan hati hingga tiba ditempat shalat. Lalu beliau berkhutbah tidak sebagaimana biasanya, beliau tidak henti-hentinya berdoa, merendah, bertakbir dan melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana beliau melakukan shalat ‘led.” (HR. at-Tirmidzi)

Namun perlu diketahui oleh para pembaca rahimakumullah, bahwa istighfar bukanlah sekedar kalimat yang hanya diucapkan di lisan. Demikian pula shalat Istisqa’, bukanlah hanya sekedar ritualitas tertentu saja. Sesungguhnya yang dimaukan dan diharapkan dari istighfar dan shalat Istisqa’ adalah sikap taubat dan penyesalan atas dosa yang dilakukan, pengakuan dan perendahan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta memperbaiki diri. Lihatlah apa yang diperbuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu di atas. Beliau keluar berjalan dalam keadaan tunduk, takut dan merasa rendah di hadapan Allah. lnilah yang diharapkan sesungguhnya.

Adapun jika beristighfar dengan ucapan semata, hati yang lalai dan perilaku yang buruk serta senantiasa bergelut dengan perbuatan dosa dan maksiat maka sungguh kemarau panjang sulit untuk berubah. Maka sebelum kita beristighfar dan shalat lstisqa’, perhatikan kondisi diri kita!

Kesyirikan yang merajalela, shalat yang dilalaikan, perbuatan haram yang dilegalkan, amanat yang ditelantarkan, riba yang kian merajalela, perzinaan dimana-mana, musik dan nyanyian telah memenuhi rumah-rumah, masjid-masjid yang lengang, orang tua yang tidak peduli dengan anaknya, anak yang durhaka kepada orangtuanya, saling menjatuhkan antara satu dengan yang lainnya dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain. Sudahkan kita merubah itu semua? Jangan sampai keadaan kita sama dengan sebelum beristighfar dan shalat Istisqa’ atau bahkan lebih buruk, wal ‘iyadzubillah.

Memang kita tidak bisa menutup mata bahwa tidak semua kaum muslimin terjatuh dalam pelanggaran-pelanggaran. Di sana ada orang-orang yang terhindar dari perbuatan maksiat. Namun yang kurang dari mereka adalah dalam hal memberikan teguran dan nasehat kepada saudara yang sedang terjatuh dalam dosa. Lemah dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah kaum muslimin. Kurangnya kepedulian dengan sekitarnya bahkan terkesan membiarkan.

Padahal sejatinya azab itu jika datang maka akan menimpa seluruhnya, tidak hanya yang berbuat dosa. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan; “Dan takutlah akan suatu fitnah (bencana) yang tidaklah sekedar menimpa orang-orang zalim diantara kalian.” (al-Anfal: 25)

Oleh karena itu mari kita tegakkan amar ma’ruf nahi munkar di tengah-tengah kita, dengan senantiasa memberikan nasehat dan masukan kepada saudara kita yang sedang lalai dan terlena dalam keterpurukan!

  • Renungan untuk Semua

Para pembaca rahimakumullah, dengan demikian, kemarau panjang yang sedang melanda sebenarnya adalah karena kesalahan kita sendiri. Maka sadarilah hal ini, berlapang dada-lah untuk menerima ketentuan Allah dan bersabarlah. Bertakwalah kepada Allah dengan penuh kesungguhan, takutlah akan azabNya dan bersegeralah bertaubat dan kembali kepadaNya, karena sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubah keadaan mereka.

Rendahkanlah diri kita kepada Allah, mendekat dan memohon-Nya. Waspadalah dari sikap sombong dan hati yang keras dalam menghadapi musibah, karena sesungguhnya yang demikian ini merupakan sebab kehancuran dan kebinasaaan.

Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan: “(Tidak), tetapi hanya DiaIah yang kalian seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kalian berdoa kepadaNya jika Dia menghendaki, dan kalian tinggalkan sembahan-sembahan yang kalian sekutukan (dengan Allah). Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang dzalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (aI-An’am: 41- 45)

Di samping itu pula, ketahuilah bahwa sebesar dan sebanyak apapun dosa seorang hamba tidak boleh menjadikan dirinya berputus asa dari rahmat Allah lalu enggan untuk bertaubat. Tidak ada dari kita yang bebas dari dosa dan kesalahan, maka janganlah berputus asa, pesimis dan patah semangat dalam hidup ini. Sesungguhnya berputus asa adalah suatu sikap yang tercela dalam agama kita yang mulia ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam beberapa ayatNya: “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf: 87)

“Katakanlah: “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi).” (az-Zumar: 53-54).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan ampunanNya kepada kita dan mengangkat serta menjaga kita dari berbagai macam kejelekan dan musibah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala segera menurunkan kepada kita hujan yang membawa berkah dan rahmah, bukan yang membawa azab dan bencana. Amin ya Rabbal Alamin. Wallahu a’lam bish shawab, semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Abdullah Imam hafidzahullah.

**********************

APAKAH HAKEKAT “WAHABI” YANG TERUS DIMUSUHI & DIOLOK-OLOK OLEH ISLAM NUSANTARA DAN GARIS LURUS ITU?

Oleh:

Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Rahimahullah

Tanya : “Sebagian orang menyebut ulama-ulama Saudi Arabia sebagai ulama-ulama “Wahabi”. Apakah Anda rela dengan penyebutan ini?”

Jawab : “Ini adalah julukan terkenal untuk ulama-ulama Tauhid, ulama-ulama di negeri Najd (sebuah kota kecil dekat Riyadh Saudi Arabia, pen). Mereka (para penuduh tersebut) menisbahkannya kepada ASY-SYAIKH AL-IMAM MUHAMMAD BIN ‘ABDIL WAHHAB rahmatullah ‘alaihi.

Karena beliau BERDAKWAH MENGAJAK KEPADA AGAMA ALLAH pada paroh kedua abad ke-12 hijriyah. Beliau berupaya serius dalam menjelaskan tauhid dan menjelaskan bahaya syirik kepada umat manusia, hingga melalui beliau Allah memberikan hidayah kepada manusia dalam jumlah yang sangat besar. Umat manusia masuk dalam Tauhidullah, dan meninggalkan berbagai bentuk syirik akbar yang sebelumnya mereka berada di atasnya, baik berupa penyembahan kepada kubur, bid’ah-bid’ah yang terkait kuburan, maupun penyembahan kepada pohon-pohon dan batu-batu , serta sikap ekstrim dalam mengkultuskan orang-orang shalih.

Jadilah dakwah beliau adalah dakwah TAJDIDIYYAH (PEMBAHARUAN) ISLAMIYYAH yang sangat besar. Dengan dakwah tersebut Allah memberikan manfaat kepada kaum muslimin di Jazirah Arabia dan negeri-negeri lainnya – semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas- dan jadilah para pengikut beliau dan orang-orang yang berdakwah kepada apa yang beliau dakwahkan serta tumbuh di atas dakwah ini di negeri Najd disebut sebagai “WAHABI”. Sehingga gelar ini menjadi sebutan bagi setiap orang yang berdakwah kepada Tauhid, melarang dari Syirik dan bergantung kepada kuburan-kuburan atau pohon-pohon dan batu-batu, serta memerintahkan untuk ikhlash (memurnikan peribadahan) hanya untuk Allah satu-satunya.

Disebutkan dengan julukan “WAHABI”, SEBENARNYA INI ADALAH JULUKAN YANG MULIA, menunjukkan bahwa barangsiapa yang dijuluki dengan gelar tersebut maka dia adalah Ahli Tauhid, dan termasuk Ahli Ikhlash, dan termasuk orang-orang yang melarang dari kesyirikan, melarang dari penyembahan kepada kuburan-kuburan, pohon-pohon, batu-batu, dan patung-patung serta berhala.

Inilah asal usul penamaan dan julukan ini. Yaitu merupakan penisbatan kepada asy-Syaikh al-Imam MUHAMMAD BIN ‘ABDIL WAHHAB BIN SULAIMAN BIN ‘ALI AT-TAMIMI AL-HANBALI, seorang da’i ke jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Beliau tumbuh di negeri Najd, belajar di negeri Najd, kemudian melakukan perjalanan ke Makkah, Madinah, Iraq,  dan Ahsa’ untuk mengambil ilmu dari para ‘ulama Ahlus Sunnah di negeri-negeri tersebut.

Kemudian beliau kembali ke negeri Najd, beliau mendapati kondisi umat yang berada dalam kungkungan kejahilan (kebodohan), peribadatan kepada kuburan-kuburan dan sikap ghuluw (ekstrim) terhadapnya, kesyirikan kepada Allah Ta’ala, memanggil-manggil / berdo’a kepada orang mati, beristighatsah kepada orang mati, dan membangun di atas kuburan.

Maka beliau pun berdakwah ke jalan Allah, membimbing umat dan melarang mereka dari berbuat syirik, menjelaskan tauhid kepada umat yang itu merupakan hak Allah atas hamba-hamba-Nya sekaligus agama yang diserukan oleh para rasul ‘alaihish shalatu was salam.…

Maksud dari penjelasan ini semua adalah : bahwa julukan dan gelar tersebut adalah julukan bagi setiap orang yang berdakwah kepada Tauhid dan mengingkari Syirik. Sebagian orang-orang bodoh menyebutnya dengan julukan WAHABI. Itu akibat kebodohan mereka tentang hakekat sebenarnya dan mereka tidak berilmu tentangnya.

Hakekat sebenarnya adalah sebagaimana telah kami sebutkan. Bahwa ini adalah DAKWAH YANG BESAR : [1] mengajak kepada Tauhid, [2] mengajak untuk berittiba’ (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan [3] tidak bertaklid serta fanatik buta, [4] meninggalkan bid’ah dan khurafat, [5] meninggalkan syirik dan bergantung kepada orang-orang mati, pohon, dan bebatuan. Bahkan meninggalkan bergantung kepada para nabi dan orang-orang shalih.

Jadi dakwah ini adalah dakwah yang MEMERANGI SYIRIK, mengajak kepada TAUHID dan IKHLASH untuk-Nya. Beriman dengan makna Laailaaha Illallah dan merealisasikannya, juga merealisasikan ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, berpegang teguh dengan Sunnah dan jalan beliau, serta istiqomah di atas itu semua. INILAH DAKWAH ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN ‘ABDIL WAHHAB Rahimahullah. (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, hal. 23) Majmu’ah Manhajul Anbiya

Sumber:

  • Buletin Al-Ilmu Jember edisi no. 40/X/XIII/1436 H
  • http://www.manhajul-anbiya.net/apakah-hakekat-wahabi-yang-terus-dimusuhi-diolok-olok-oleh-islam-nusantara-dan-garis-lurus-itu/

وَالله ُتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعٰلَمِيْنَ